Pengaruh Parpol Tidak Akan Dominan dalam Pilkada
Senin, 18 Apr 2005 14:40 WIB
Jakarta - Pengaruh partai politik (parpol) dinilai tidak akan mendominasi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung pada Juni 2005 mendatang. Masyarakat cenderung akan memilih figur atau sosok individu ketimbang parpol yang mengajukannya.Demikian dikatakan anggota tim ahli desk Pilkada Pusat Cecep Effendi dalam diskusi publik "Pilkada: Partai, Calon atau Uang" di Wisma Nusantara, Jl. MH. Thamrin, Jakarta, Senin (18/4/2005)."Pilkada nanti memang hanya calon yang diajukan parpol yang bisa bersaing. Tapi nantinya potensi Pilkada lebih ditentukan calon pribadi yang dikenal masyarakat daripada dukungan parpol itu sendiri," kata Cecep.Cecep menerangkan, berdasarkan survei di Amerika Serikat (AS) mengenai Pilkada tahun 1950-1981, kepala daerah yang terpilih adalah mereka yang lebih muda, lebih terdidik, dan lebih siap dari pendahulunya. Kasus di AS tersebut bisa saja terjadi juga di Indonesia. "Yang pasti mereka berasal dari kalangan orang kaya mudah dijual secara fisik, mampu berbicara, berbakat dan kokoh secara moral dan emosional," kata Kepala Divisi Democracy, Governance and Decentralization The Indonesia Institute itu. Menurut Cecep, politik uang juga tidak bisa dipisahkan dari Pilkada langsung Juni nanti. Calon haruslah orang yang kaya karena biaya Pilkada itu mahal. Untuk menjaring pemilih ataupun untuk sekadar menjelaskan program kerjanya dibutuhkan uang untuk mendatangkan massa. Selain itu, parpol sendiri lebih memilih mengusung calon yang seorang birokrat yang punya lebih banyak uang dan lebih populer dibandingkan mengusung calon dari kalangannya sendiri.
(iy/)











































