BMKG Prediksi Musim Kemarau Dimulai Bulan Mei-Juni

BMKG Prediksi Musim Kemarau Dimulai Bulan Mei-Juni

Ahmad Mustaqim - detikNews
Selasa, 07 Mar 2017 15:44 WIB
BMKG Prediksi Musim Kemarau Dimulai Bulan Mei-Juni
Foto: Ahmad Mustaqim/detikcom
Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau akan dimulai pada Mei atau Juni. Namun ada beberapa wilayah yang diprakirakan BMKG masih akan diguyur hujan.

"Kami prediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan masuk musim kemarau pada bulan Mei, Juni, Juli 2017, meskipun ada beberapa wilayah Indonesia pada bulan Maret, April yang sudah masuk (kemarau)," ujar Deputi Klimatologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo di gedung Serbaguna BMKG, Jl Angkasa 1 Nomor 2, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (7/3/2017).

Mulyono mengatakan musim kemarau akan dimulai dari wilayah timur ke barat. Awal kemarau dimulai dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan masuk ke Jawa bagian timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada umumnya awal musim kemarau ini akan berawal di wilayah timur, jadi wilayah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat. Jawa bagian timur kemudian merambat ke arah barat. Karena luasnya wilayah Indonesia, pada saat kita masuk musim kemarau, ada beberapa tempat wilayah Indonesia masih punya potensi curah hujan, bahkan masih pada kondisi masuk musim penghujan," ujarnya.

"Yang penting bagi kita semua tentunya tindak lanjut dari informasi prakiraan musim kemarau ini karena ada beberapa yang memang kita memprediksikan potensi awal musim kemaraunya maju. Ada beberapa wilayah yang potensi musim kemaraunya sama, ada juga beberapa wilayah yang potensi awal musim kemaraunya mundur, dari biasanya atau dari normalnya. Khususnya untuk yang masuk musim kemaraunya lebih awal, ini perlu diantisipasi," imbuh Mulyono.

Untuk musim kemarau, antisipasi yang perlu dilakukan terkait dengan kebakaran hutan. Meski, intensitas kebakaran hutan lebih rendah dibanding pada 2015.

"Tidak tertutup kemungkinan kondisi kering akan lebih awal, akan tetapi antisipasi kebakaran hutan lahan. Meskipun kalau kita lihat intensitas di 2017 masih lebih rendah dibandingkan di 2015, di mana musim kemarau di 2015 cukup intens, sehingga potensi kebakaran hutan lahannya juga lebih luas," tutur Mulyono. (fdn/fdn)


Berita Terkait