"Tawuran itu juga terjadi karena adanya provokasi dari pihak luar, kepentingannya sering kali orang yang mau memasok narkoba, supaya mereka mengalihkan perhatian aparat. Caranya dengan satu, dua orang anak membuat gara-gara sehingga terjadi keributan. Ketika ribut, pengedarnya bisa aman," ujar Paulus saat dihubungi detikcom, Senin (6/3/2017) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa juga provokasi dengan memanfaatkan geng anak muda. Misalnya di satu gang atau wilayah itu lokasinya strategis untuk perdagangan. Maka didirikanlah toko-toko, namun supaya harga tanahnya murah, diprovokasilah warganya untuk tawuran," sebut guru besar FISIP Universitas Indonesia ini.
Paulus menyebut tingkat tawuran antarwarga di Ibu Kota masih sangat tinggi karena adanya kebiasaan buruk di masyarakat yang mudah terprovokasi. Tawuran antarwarga dengan mengatasnamakan kelompok tempat tinggalnya, seperti kelurahan dan RW, hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta.
"Sekarang kalau dibandingkan frekuensi tawuran itu, setahu saya di metropolitan, lainnya seperti Malaysia, Thailand, Filipina, itu tidak ada lagi tawuran antarkampung," ungkap Paulus.
"Memang ada juga oknum kelompok pemuda kita yang juga menggunakan tawuran dalam tanda petik sebagai alat mereka untuk menarik perhatian pemerintah. Jadi kalau mereka tawuran itu, anak-anak itu nantinya bisa merasa dibina, diberikan pelatihan, mereka akan diajak untuk acara pembinaan di Puncak. Nah kegiatan seperti ini kadang dimanfaatkan juga oleh mereka dengan melakukan tawuran," sambung Paulus. (nvl/jor)











































