Tawuran di masa kini sangat lekat dengan diri kita. Dengan perkembangan IT, "vlog" tawuran sering bersliweran di gadget. Menyusup tanpa permisi. Aliran darah dan aroma kematian kadang begitu norak dipertontonkan. Mengiris hati dan pikiran.
Uniknya, di banyak bangsa, tawuran anak-anak muda sangatlah jarang terjadi. Semua tampak adem ayem dan seolah tanpa gejolak. Apakah mereka tidak memiliki darah muda yang menggelora dan mudah membakar jiwa?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan, tingkat kompetisi antar anak muda di Korea Selatan sangatlah ketatnya. Saking serunya berkompetisi sampai-sampai tidak sempat memikirkan untuk tawuran. Persaingan dimanifestasikan dengan berbagai "perlombaan" yang boleh dibilang tidak berbahaya.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Saking sibuknya, anak-anak jadi tidak terbiasa tidur siang dan berleha-leha. Manakala mereka lengah maka ibunya akan mengingatkan bahwa kompetisi di masa datang semakin ketat. Ditanamkan dalam diri si anak agar nantinya tidak menjadi orang susah apalagi miskin.
Yang paling tampak nyata adalah cara anak-anak yang sedang mengejar popularitas. Untuk menjadi bintang, seseorang tidak cukup memiliki satu kecakapan saja. Selain menjadi penyanyi misalnya, harus juga jagoan menari, berdansa, acting di depan dan berbadan aduhai. Semua harus diusahakan secara maksimal tanpa mengenal lelah.
Foto: M Aji Surya/detikcom |
Yang jelas, membudayakan kompetisi yang ketat sejak dini akan mampu menyalurkan tingginya adrenalin dan darah muda kepada kegiatan yang lebih positif. Orang tua, lingkungan dan pemerintah memiliki peranan yang tidak kecil. Bila terlalu banyak menganggur dan waktu luang, maka tawuran bisa menjadi salah satu ajang eksistensi diri.
*M Aji Surya, WNI yang tinggal di Korsel (try/try)












































Foto: M Aji Surya/detikcom
Foto: M Aji Surya/detikcom