Tawuran dan Eksistensi Diri

Anyonghaseo (48)

Tawuran dan Eksistensi Diri

M Aji Surya* - detikNews
Jumat, 03 Mar 2017 15:18 WIB
Tawuran dan Eksistensi Diri
Foto: M Aji Surya
Seoul - Seringkali terpikir, mengapa di tanah kita anak-anak sering tawuran, sedangkan di tempat lain hal itu tidak terjadi. Benarkah ini budaya yang sulit dihilangkan, ataukah ada yang salah dalam sistem pendidikan kita?

Tawuran di masa kini sangat lekat dengan diri kita. Dengan perkembangan IT, "vlog" tawuran sering bersliweran di gadget. Menyusup tanpa permisi. Aliran darah dan aroma kematian kadang begitu norak dipertontonkan. Mengiris hati dan pikiran.

Uniknya, di banyak bangsa, tawuran anak-anak muda sangatlah jarang terjadi. Semua tampak adem ayem dan seolah tanpa gejolak. Apakah mereka tidak memiliki darah muda yang menggelora dan mudah membakar jiwa?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut seorang ibu WNI yang telah tinggal lebih 10 tahun di Korea Selatan, tawuran seperti yang terjadi di tanah air belum pernah dilihatnya sama sekali di sana. Adu jotos antar anak muda tidak sempat mampir di matanya. Bahkan anak-anaknya yang mulai menginjak dewasa tidak pernah menceritakan tentang dunia tawuran.

Dikatakan, tingkat kompetisi antar anak muda di Korea Selatan sangatlah ketatnya. Saking serunya berkompetisi sampai-sampai tidak sempat memikirkan untuk tawuran. Persaingan dimanifestasikan dengan berbagai "perlombaan" yang boleh dibilang tidak berbahaya.
Tawuran dan Eksistensi DiriFoto: M Aji Surya/detikcom
Hampir semua anak-anak di Korea, sejak dini sudah dikenalkan dengan aneka kegiatan yang bersifat ketrampilan wajib, seperti memainkan piano, biola ataupun melukis. Tidak jarang juga mereka menekuni dunia olahraga seperti taekwondo. Ketika menginjak dewasa, umumnya harus fasih matematika dan casciscus bahasa Inggris.

Saking sibuknya, anak-anak jadi tidak terbiasa tidur siang dan berleha-leha. Manakala mereka lengah maka ibunya akan mengingatkan bahwa kompetisi di masa datang semakin ketat. Ditanamkan dalam diri si anak agar nantinya tidak menjadi orang susah apalagi miskin.

Yang paling tampak nyata adalah cara anak-anak yang sedang mengejar popularitas. Untuk menjadi bintang, seseorang tidak cukup memiliki satu kecakapan saja. Selain menjadi penyanyi misalnya, harus juga jagoan menari, berdansa, acting di depan dan berbadan aduhai. Semua harus diusahakan secara maksimal tanpa mengenal lelah.
Tawuran dan Eksistensi DiriFoto: M Aji Surya/detikcom
Namun demikian, persaingan yang ada juga terkadang memunculkan efek yang kurang baik. "Lomba" gadget di antara anak muda Korea adalah hal yang lazim. Bahkan, manakala kalah dalam persaingan dapat membuat sang anak stres berat dan ada segelintir yang kemudian mengambil "jalan pintas".

Yang jelas, membudayakan kompetisi yang ketat sejak dini akan mampu menyalurkan tingginya adrenalin dan darah muda kepada kegiatan yang lebih positif. Orang tua, lingkungan dan pemerintah memiliki peranan yang tidak kecil. Bila terlalu banyak menganggur dan waktu luang, maka tawuran bisa menjadi salah satu ajang eksistensi diri.

*M Aji Surya, WNI yang tinggal di Korsel (try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads