Hari Buruh
Kamis 02 Mar 2017, 17:57 WIB

Mayat yang Ditemukan di Kolong Tol Kapuk Diduga Kurir Narkoba

Jabbar Ramdhani - detikNews
Mayat yang Ditemukan di Kolong Tol Kapuk Diduga Kurir Narkoba Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom
Jakarta - Polisi menduga mayat berinisial YTK yang ditemukan di kolong Tol Kapuk Prof. dr. Sedyatmo merupakan kurir narkotika sindikat internasional. Hal ini juga didasarkan pada catatan perjalanannya yang ada di paspor yang ditemukan.

"Patut kita duga, dia ini terkait jaringan narkoba internasional. Dia datang ke Jakarta dari Hong Kong," kata Kapolres Jakarta Utara Kombes Awal Chairuddin di kantornya, Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (2/3/2017).

Terlihat dari paspor tersebut, sudah ada cap dari Imigrasi sejak tahun 2014. Hanya pada 2016 tidak ada jejak perjalanan darinya. Dalam kurun waktu tersebut, YTK juga sering pergi ke China.

"Sejak 2014 dia jejak perjalanannya sudah dari Jakarta-Hong Kong-China. Jejak rekam di paspor 2014, 2015 dan 2017. Di tahun 2016 tidak ada catatannya," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, YTK ditemukan tewas pada Kamis (23/2) lalu. Sekitar jarak 300 meter dari mayat korban ditemukan barang-barang miliknya termasuk fotokopi KTP. Polisi pun pergi ke Nganjuk, Jawa Timur sebagaimana tertulis di KTP untuk menemui keluarga YTK.

Setelah polisi mengkonfirmasi sosok mayat tersebut kepada orang tuanya, diketahui YTK pernah izin pergi pada 13 Februari 2017. YTK mengaku kepada orang tuanya memiliki pekerjaan tidak tetap, namun sering izin pergi dan kembali lagi ke Nganjuk.

"Berdasarkan pengakuan orang tuanya, dia bekerja tidak tetap. Sering meminta izin bepergian, tak lama lalu kembali. Orang tuanya tidak tahu kalau dia ke Hong Kong," ujar Awal.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, YTK pergi dari Nganjuk ke Surabaya. Setelah itu dia menuju ke Jakarta menggunakan pesawat. Pada hari yang sama, YTK melanjutkan perjalanan ke Singapura lalu ke Hong Kong.

Dia sempat juga ke China hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada 19 Februari 2017. Polisi dalam identifikasi kasus ini juga mengecek rekaman CCTV yang ada di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

"Dia berangkat dari Jakarta 13 Februari. Masuk Hong Kong 13 Februari. Lalu kembali masuk ke Jakarta tanggal 19 Februari. Ciri fisik korban ini identik dengan CCTV yang kita buka di Bandara Soekarno-Hatta. Dia mendarat dari China," tuturnya.

Meski demikian, polisi belum dapat memastikan dari mana datangnya sabu dalam kapsul yang ada pada YTK. Dari barang bukti yang ditemukan di lokasi, polisi akan melakukan penelusuran. Dalam upaya tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) sudah digandeng.

"Asal sabu belum bisa dipastikan. Kita patut duga kuat ada di dalam tubuhnya. Mungkin saja dia berangkat ke Hong Kong tapi dapat barangnya di tempat lain," kata Awal.

"Lewat barang bukti yang ada, HP dan buku rekening kita pegang. Nanti kita kembangkan dari percakapan yang ada di HP ini juga," sambungnya.

Berat kotor dari 10 kapsul berisi sabu yang ditemukan ini ada seberat 234 gram. Jika dirupiahkan, barang haram tersebut senilai Rp 200 juta. Bersama BNN, polisi juga akan menelusuri apakah YTK memiliki kaitan dengan jaringan narkotika lainnya.
(jbr/idh)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed