Harga Gula dan Minyak Tanah di Seram Melambung
Minggu, 17 Apr 2005 15:23 WIB
Ambon - Naik-naik ke puncak gunung, harga minyak tanah dan gula di Seram kian melambung. Inilah yang terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Masyarakat makin terbebani, sementara penyakit malaria masih mengancam. Masyarakat di SBT seakan-akan terus diuji. Di saat daerah ini diserang malaria, harga-harga kebutuhan pokok juga makin tidak bersahabat. Harga gula di pasaran mencapai Rp 7.500 hingga Rp 8.000 per kg dari harga standar Rp 6.000. Sementara harga minyak tanah naik Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per liter dari harga eceran tetap (HET) Rp 1.000.Jelas, kondisi ini dikeluhkan warga SBT. Karena itu, saat bertatap muka dengan Gubernur Maluku Karel Alberth Ralahalu beserta sejumlah muspida Maluku lainnya, warga tidak membuang-buang kesempatan. Mereka mengemukakannya kepada Gubernur. Mendengar keluhan warga tersebut, Gubernur mengaku kaget dengan harga kedua kebutuhan warga tersebut. Untuk itu, Gubernur meminta langsung kepada Bupati maupun beberapa kepala Kecamatan di Kabupaten SBT untuk segera melakukan tindakan cepat terhadap persoalan ini. "Ini menyangkut kehidupan rakyat. Jadi saya minta persoalan ini segera diatasi secepatnya. Jangan sampai menyusahkan rakyat di SBT," tegas Gubernur.Pada kesempatan itu juga, Kepala Dinas Peindustrian dan Perdagangan Burhan Bandjar menjelaskan tentang harga gula dan minyak tanah khusus untuk wilayah Kabupaten SBT.Dikatakan dia, untuk wilayah SBT, harga gula seharusnya berada di kisaran Rp 5.800 hingga Rp 6.000. Sementara harga minyak tanah seharusnya Rp 1.000. "Harga ini sudah termasuk biaya komponen lainnya. Jadi jika harga sampai mencapai Rp 7.500 sampai Rp 8.000, warga diharapkan melaporkan hal ini kepada pihak Kecamatan maupun Kabupaten untuk menindaklanjutinya," ungkapnyaMenyikapi soal ini, pihak Kecamatan mengaku dalam waktu dekat akan melakukan sidak dan meminta agar harga kedua kebutuhan warga tersebut segera diturunkan. "Kami akan melakukan dialog dengan pihak pengecer maupun agen untuk segera menurunkan harga kedua kebutuhan itu," ujar Camat Gorom, La Djara Derlean.Sementara itu, beberapa pengecer yang ditemui detikcom, Minggu (17/4/2005) mengaku mendapatkan minyak tanah dengan harga yang sudah tinggi. "Ini kami beli Rp 2.000 per liter, jadi kita jual Rp 2.500 per liter," kata salah seorang pengecer di pelabuhan Geser.Hal yang sama ditemui di Kecamatan Werinama. "Ongkos transport ke Kecamatan ini saja sanga tinggi, jadi harga jual minyak disini juga tinggi," ungkap Saleh Kelilauw pemilik kios minyak di desa Werinama.
(asy/)











































