Selasa (28/2) kemarin sekitar pukul 16.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB, daerah Slipi Petamburan diguyur hujan lebat. Namun Agustinus tidak turun untuk berteduh.
"Pas hujan, dia terus nongkrong di atas," ujar tukang ojek perempatan Slipi Petamburan, Edi (52), kepada detikcom, Rabu (1/3/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak tahu bagaimana cara dia bertahan di atas sana. Nggak ada yang memberi makan juga," ujar Edi.
Agustinus sempat menyebarkan selebaran dari atas baliho. Isi selebaran merupakan tuntutan mengenai anak kerabatnya yang tewas.
"Surat itu disebar, tadi saya baca. Isinya tentang kerabat yang dibunuh oleh Densus 88. Nyebarnya tadi sore sebelum hujan. Saya berpendapat dia orang aneh, mungkin kena gangguan jiwa," kata Edi.
Edi mengatakan beberapa kali polisi datang dan menghubungi Agustinus. Polisi tersebut memastikan kondisi Agustinus.
"Namanya Pak Teguh, dia beberapa kali ke sini, menanyakan kondisi Agustinus. Soalnya, kemarin pas ada polisi yang meminta turun, malah disodok pakai bambu," kata Edi.
Dari pantauan di lokasi pada pukul 19.45 WIB. Tidak ada polisi atau orang yang meminta Agustinus turun.
Pengguna jalan pun hanya menengok sekilas. Tidak ada pengguna jalan yang sengaja berhenti atau memperlambat laju kendaraan untuk melihat Agustinus. (aik/rvk)