DetikNews
Rabu 01 Maret 2017, 17:34 WIB

Kunjungan Raja Salman

Penjelasan Soal Bisht dan Thawb yang Dipakai Raja Salman

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Penjelasan Soal Bisht dan Thawb yang Dipakai Raja Salman Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pakaian selalu menunjukkan identitas dan status sosial seseorang. Di Saudi dan negara-negara di semenanjung Arab lainnya, pakaian pun memiliki makna tersendiri.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud selalu tampil mengenakan pakaian putih yang dibalut oleh kain agak transparan berwarna cokelat keemasan. Tak hanya Raja Salman, jajarannya pun mengenakan pakaian serupa namun kain pelapisnya berwarna hitam.
Penjelasan Soal Bisht dan Thawb yang Dipakai Raja SalmanFoto: REUTERS/Beawiharta

Penampilan Raja Salman ketika berkunjung ke Indonesia hari ini, Rabu (1/3/2017) juga mengenakan pakaian seperti itu. Tangan kirinya ditumpangkan pada celah yang terdapat di bagian depan kain pelapis yang agak transparan itu.

Apa sebetulnya pakaian yang dikenakan Raja Salman itu?

Seorang pria di Arab Saudi biasanya terlihat mengenakan baju panjang berwarna putih. Pakaian ini disebut thawb (atau kadang disebut thobe), pakaian tradisional bagi laki-laki di Saudi dan negara-negara Arab lainnya.

Pakaian ini dipakai oleh semua kalangan mulai dari rakyat jelata hingga seorang raja. Thawb berasal dari bahasa Arab yang berarti penutup badan.

Penyebutan thawb di beberapa negara pun berbeda-beda, seperti 'kandura' di Uni Emirat Arab atau 'jubbah' di Iran. Tetapi maknanya tetap sama.

Thawb bisa berarti hanya sebuah pakaian biasa tanpa dihiasi oleh bisht, kain pelapis yang agak transparan. Tak semua orang mengenakan bisht dalam setiap kesempatan.
Penjelasan Soal Bisht dan Thawb yang Dipakai Raja SalmanFoto: Rachman Haryanto

Bisht merupakan kain panjang yang menutupi thawb. Biasanya bisht menandakan status seseorang.

Mulanya bisht dikenakan di musim dingin saja oleh orang-orang Badui. Kini hampir tiap acara formal pasti ada bisht yang membalut thawb.

"Bisht pertama kali dijahit di Persia. Bisht diperkenalkan di Saudi saat pedagang bisht datang untuk berhaji atau umrah," ungkap seorang penjahit Bisht asal Al-Ahsa bernama Abu Salem saat diwawancara Arab News pada 7 November 2012.

Al-Ahsa disebut sebagai tempat penjahit bisht yang terbaik selama 2 abad di Saudi. Bahkan Al-Ahsa menjadi tempat penjahit bisht terbesar di negara-negara Teluk sejak tahun 1940.

Keahlian menjahit bisht di Al-Ahsa diturunkan dari generasi ke generasi. Biasanya mereka memakai nama keluarga mereka.

Pada sebuah bisht terdapat sulaman atau bordir yang disebut zari. "Bisht hitam dengan jahitan emas adalah yang paling populer, setelahnya ada krem dan putih," kata Salem.

Harga bisht bervariasi antara 100 reals hingga 20.000 reals. Harga termahal adalah bisht kerajaan yang biasanya diperuntukkan bagi pangeran, politikus, dan orang kaya.
(bag/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed