Tenda yang Dirobohkan dan Suara Miring Operasional Pabrik Semen

Tenda yang Dirobohkan dan Suara Miring Operasional Pabrik Semen

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Rabu, 01 Mar 2017 16:14 WIB
Tenda yang Dirobohkan dan Suara Miring Operasional Pabrik Semen
Foto: Dok Polres Rembang
Rembang - Tenda yang didirikan pihak penolak semen kini sudah tidak lagi berdiri di area masuk pabrik. Hanya tertinggal puing-puing tenda yang dirobohkan lengkap dengan garis polisi membentang. Papan larangan dari Perhutani juga menghiasi dengan tulisan 'Dilarang mendirikan bangunan, menempati dan menggunakan kawasan hutan Perum Perhutani KPH Mantingan tanpa ijin'.

Pembongkaran tenda dilakukan oleh sejumlah kelompok warga pada 10 Februari lalu. Baik tenda penolak maupun pendukung pendirian pabrik dirobohkan dan tumpukan kayunya dibakar. Selain itu, portal bambu yang dipasang warga sehari sebelumnya juga dibongkar.

Sisa kayu yang dibakar juga masih berada di lokasi kejadian tepat di seberang bekas tenda. Kapolres Rembang AKBP Sugiarto mengatakan saat ini dugaan tindakan perusakan itu masih dalam penyelidikan, sehingga lokasi juga masih dipasangi garis polisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu masih dalam rangka tahap olah tempat kejadian perkara," kata Sugiarto beberapa waktu lalu.

Terkait dengan izin pendirian tenda, Sugiarto menjelaskan itu merupakan ranah pemilik lahan, yaitu Perhutani ataupun pihak PT Semen Indonesia.

"Kalau soal izin itu ranah pihak semen sama Perhutani, yang punya kewenangan mereka. Ya kalau lahan orang ditempati tanpa izin kira-kira bagaimana," tandasnya.

Baca: Ganjar Antar Izin Lingkungan Pabrik Semen di Rembang ke Jokowi

Sementara itu, salah satu petani yang selalu menyuarakan penolakan pendirian pabrik semen di Rembang, Sukinah, mengatakan kini ia dan teman-temannya beraktivitas seperti biasa, yaitu bertani. Warga Tegaldowo, Rembang, itu mengaku tetap akan berjuang agar pabrik yang menurutnya merusak lingkungan tersebut ditutup.

"Ya seperti biasanya, bertani. Selama ini memang bertani, meski berjuang tetap bertani," kata Sukinah dengan bahasa Jawa.

Ia masih menunggu dan memikirkan apa lagi yang akan dilakukan untuk menyuarakan penolakan pabrik semen tersebut. Sukinah menegaskan ia tidak akan berhenti karena berdampak pada kehidupan orang banyak.

"Kami tidak surut menolak karena ini menyangkut masa depan anak-cucu. Apa yang akan dilakukan ke depan belum tahu, belum ada ancang-ancang," tandasnya.

Ahmad Ridwan, Kepala Desa Kadiwono, Rembang, mengungkapkan dirobohkannya tenda pro dan kontra di dekat pabrik semen merupakan tindakan warga yang tidak ingin ada keributan di antara kedua belah pihak. Pihaknya juga saat itu menghubungi kepolisian karena khawatir ada benturan di sana.

"Monggo saudara kita yang pro dihormati, yang kontra juga dihargai. Saya waktu itu juga dihujat lewat media sosial, saya terima hujatan itu dan dikata-katai tidak pantas. Pak Jokowi dan Pak Ganjar dihujat saja tidak balas kok," kata Ahmad. (alg/try)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads