DetikNews
Selasa 28 Februari 2017, 17:49 WIB

Natasha Gabriella Tontey Bicara soal 'Makan Mayit' yang Kontroversial

Tia Agnes - detikNews
Natasha Gabriella Tontey Bicara soal Makan Mayit yang Kontroversial Natasha Gabriella Tontey (Foto: dok. Istimewa/ YouTube)
Jakarta - 'Makan Mayit', karya seni Natasha Gabriella Tontey, menjadi kontroversi setelah mendapatkan kecaman keras dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Yembise. Apa sebenarnya maksud Natasha membuat karya tersebut?

'Makan Mayit' yang dikreasikan oleh Natasha Gabriella Tontey ini menampilkan makanan berbentuk tubuh bayi. Karya disuguhkan dalam suatu gelaran pameran di Footurama, Jakarta, pada bulan Januari 2017.

Karya seni ini ramai diperbincangkan dengan tagar #makanmayit di Instagram. Beberapa foto yang diunggah memperlihatkan bentuk seperti bayi meringkuk dan otak. Ada pula wadah makanan berbentuk bayi.

detikHOT mewawancarai Tontey via surat elektronik pada Selasa (28/2/2017). Dia berbicara mengenai alasan mengangkat tema kanibal dalam karyanya.

Baca Juga: Menteri Yohana Kecam 'Makan Mayit' yang Melanggar Norma Kepatutan

Berikut penuturannya:

Kenapa perlu mengangkat tema kanibal dalam karya yang diciptakan?

Ini berhubungan dengan minat saya untuk membahas ketakutan dengan hal yang lebih global. Dimulai dari hal-hal kecil untuk membahas sesuatu yang lebih besar dan pertanyaan saya akan ketakutan itu sendiri. Mungkin ketakutan adalah suatu ciptaan oknum tertentu untuk mengontrol ketakutan lain. Contoh paling dekat dengan kita adalah larangan dalam berbentuk ketakutan yang dibuat oleh orang tua terhadap anak, karena orang tua memiliki ketakutan tersendiri atau isu-isu hantu atau teror yang dibuat oleh oknum-oknum tertentu untuk mengontrol masyarakat. Mungkin begitu.

Sebenarnya isu ini menjadi ketertarikan saya sejak lama, tapi baru tercapai di Koganecho, di mana saya membuat toko mainan yang menjual cerita-cerita fiksi hasil sejarah kelam daerah Koganecho yang saya campur dengan karakter hantu Jepang. Di situ mainan-mainannya dibungkus dengan kantung putih dan hanya ceritanya saja yang kelihatan. Saya ingin menjual ketakutan orang Jepang kepada orang Jepang dengan tujuan untuk berbagi pengetahuan kepada tetangga sekitar sekaligus observasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat pada saat proses berkarya di sana.

Alasannya memilih model karya berupa bayi, mengapa?

Dalam membuat karya ini, saya menggunakan pendekatan fiksi dengan membuat cerita panti asuhan yang menjual bayi, di mana saya sebagai performer menjadi suster panti asuhan tersebut. Ini mengacu pada riset yang saya lakukan mengapa saya memilih anak-anak.

Bagaimana pandangan kamu tentang konsep 'kanibal'?

Konsep kanibal menurut saya tidak hanya mengacu pada membunuh, psikopat, dan memakan, tapi hal yang lebih luas.

Publik juga membicarakan tentang pemakaian ASI dan keringat bayi, kenapa?

Saya ingin mempertanyakan hasrat kanibalistik dimulai dari mana? Karena ada konsep endocannibalism (praktik di mana orang memakan tubuh orang yang mati) dan saya terinspirasi dari fenomena sosial itu.

Ada satu asosiasi ibu menyusui yang memprotes karya karena mencatut nama mereka. Bagaimana tanggapannya?

Saya sudah membuat surat klarifikasi untuk AIMI Yogyakarta bahwa kami tidak ada hubungannya dan hanya kesalahpahaman.

Sejak awal bikin karya, apakah sudah terpikir akan mendapatkan respons seperti ini?

Sudah, tapi saya tidak menyangka sebesar ini. Ketika acara ini berakhir malah menjadi heboh seperti ini. Tapi sekarang orang malah menghujat karena belum membaca dan tidak menangkap konteks yang ingin saya sampaikan.

Banyak yang bilang Tontey dituduh psikopat, punya kelainan, cari sensasi?

Pada konsep, saya mempertanyakan apakah sifat psikopat itu dimiliki semua manusia, dan di dalamnya saya mempertanyakan lagi hakikat dari psikopat dan kanibalisme, itu saja.

Sebelum pameran juga pernah bilang ingin bereksperimen dengan persepsi publik atas kanibalisme lewat karyamu. Sekarang kan respons masyarakat beragam. Bagaimana tanggapan kamu?

Nah, seperti yang saya ceritakan di atas, waktu belum viral, hal ini adalah eksperimen sosial, di mana saya mencari jawaban atas pertanyaan tadi. Dan sebenarnya hal yang saya lakukan juga bukan hal baru. Ada minuman darah lucu-lucuan seperti yang dijual di bazar-bazar. Setelah peristiwa berakhir setelah 5 minggu pameran berlangsung, semua menuding saya psikopat dan sebagainya. Silakan dinilai sendiri bagaimana kesimpulannya.

Nama dan karya kamu sudah viral, tanggapan publik juga beragam. Bagaimana kamu menilainya?

Tujuan saya 'semata memberikan tawaran pemikiran alternatif', 'memicu dialog atau perdebatan', dan 'membuka kemungkinan'. Reaksi sosial masyarakat, negatif atau positif, itu bagian dari medan berkesenian.
(fjp/van)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed