"Kita sudah sampai di tempat illegal logging, tapi para tersangka sudah tidak ada, sebenarnya kalau boleh, saya mau tembak," kata Zulkarnain.
Zulkarnain bersama Dirjen Gakkum KLHK Rasio Ridho Sani serta Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Raffles B. Panjaitan datang ke pedalaman kawasan cagar biosfer Giam Siak Kecil, Bukit Batu, Riau. detikcom mendapat kesempatan langka ikut menelusuri jejak pelaku kejahatan luar biasa ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom |
Dari sini, kita harus menyusuri kanal-kanal selebar 2-3 meter naik sampan kecil yang ditarik kapal motor 'alakadarnya' milik warga. Dan untuk sampai ke lokasi penjarahan, butuh waktu 3 jam 45 menit.
Kadang perahu harus terhenti karena nyangkut ke pepohonan. Maklum saja, kawasan yang dituju adalah hutan asli yang sudah ditetapkan UNESCO tahun 2009 sebagai cagar biosfer.
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom |
Cuaca di kawasan ini berganti-ganti dalam hitungan menit. Terkadang gelap, panas terik hingga hujan deras. Jalur dan medan ini jugalah yang harus sering dilewati tim gabungan dari KLHK dan Polda untuk menjaga kawasan dari pelaku illegal logging.
Para pelaku memang sudah kabur. Meninggalkan berkubik-kubik kayu meranti. Mungkin mereka kabur karena mendengar suara mesin kapal. Atau jangan-jangan karena informasi sidak bocor.
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom |
Kayu-kayu tersebut akhirnya dihancurkan dengan gergaji mesin. Dipotong kecil supaya tak bisa digunakan. Bukan cuma itu, rel kayu yang dibuat penjarah ke dalam hutan, juga dihancurkan.
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom |
Rasio menduga kayu-kayu ini dipotong sekitar seminggu lalu. Terlihat dari serbuk dan warna kayu yang masih cerah.
Illegal logging memang harus dihentikan tanpa pengecualian. Jika pohon- pohon sudah habis, giliran lahan yang bakal dibakar untuk ditanami kelapa sawit.
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom |












































Foto: Moksa Hutasoit/detikcom
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom
Foto: Moksa Hutasoit/detikcom