Hal ini dikatakan JK dalam sambutannya pada Hari Sampah Nasional di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/2/2017). Di awal pidatonya, JK mengenang tragedi Leuwigajah, Bandung pada 12 tahun lalu.
Tragedi gunung sampah itu menelan korban 157 orang karena disebabkan kecerobohan dalam mengelola sampah. JK berharap tragedi seperti Luewihgajah tidak terulang lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bukan ingin sosialisasi undang-undang, tetapi bagaimana mengubah perilaku mengatasi sampah. Sampah boleh menjadi kawan dan lawan. Kalau sampah adalah kawan maka harus ada treatment yang baik kepada sampah," ujar JK.
Wapres Jusuf Kalla pada Hari Sampah Nasional di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/2/2017). Foto: Muhammad Taufiqqurrahman-detikcom |
Sampah bisa menjadi berbahaya dengan merusak lingkungan dan menyebarkan penyakit, namun juga bisa menghasilkan pupuk dan listrik.
"Itu cara kita berkawan dengan sampah dengan mengatur, memanfaatkan sampah," ujarnya.
JK menegaskan tanggungjawab soal sampah bukan hanya milik pemerintah tetapi seluruh masyarakat. Masyarakat diminta untuk bertanggungjawab atas kebersihan lingkungannya masing-masing.
Sebagai contoh, masyarakat harus bertanggungjawab atas kebersihan selokan di depan rumahnya dan melarang pembetonan selokan.
"Semua harus punya tanggungjawab sosial. Peduli dalam arti kata atur sampah bagian dari kehidupan dan bermanfaat. Ini adalah upaya kita bersama sehingga korban tidak berjatuhan," kata dia. (fiq/fdn)












































Wapres Jusuf Kalla pada Hari Sampah Nasional di Pantai Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/2/2017). Foto: Muhammad Taufiqqurrahman-detikcom