Namun, dari penelitian yang dilakukan KPK pada tahun 2014-2015, hanya 4% ibu-ibu di Yogyakarta yang mengajarkan kejujuran kepada anaknya.
"Antara tahun 2014-2015, KPK melakukan penelitian di Yogyakarta dan Klaten, kalau nggak salah di Yogyakarta, ya. Hasil kajiannya menyatakan ternyata ibu-ibu yang ada di Yogyakarta hanya 4% yang mengajarkan kejujuran kepada anak-anaknya. Kalau hanya 4%, berarti 96%-nya ke mana?" kata Basaria.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ada niat, itu berarti di dalam diri kita masing-masing. Kalau anak yang sudah biasa diajak jujur sejak kecil, kemungkinannya kecil dia akan melakukan hal negatif. Sepintar apa pun, kalau moral sehari-hari, kejujuran, tidak ada?" imbuhnya.
Padahal, kata Basaria, Yogyakarta dikenal sebagai Kota Pelajar. Menurutnya, predikat itu menjadi cerminan tingkat pendidikan karakter kejujuran di Yogyakarta.
"Yogyakarta adalah idaman setiap orang, Kota Pelajar. Setiap anak yang duduk di SMA di mana saja pasti ingin kuliah di sini. (Tapi) ada ketimpangan, ketidakselarasan dengan kajian dari KPK," ujarnya.
Kepada mahasiswa yang hadir, Basaria menyarankan tak perlu terlalu banyak teori dalam memahami apa itu korupsi dan apa yang harus dilakukan untuk menghindarinya.
"Yang simpel saja. Bagaimana kita mencegah korupsi, kejahatan itu harus ada dua, yaitu niat dan kesempatan, maka terjadilah kejahatan," tutur Basaria. (sip/fdn)











































