"Kepala sekolah harus akrab. Kalau ada apa-apa, kita enak omongnya," ucap Djarot di Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur, Senin (27/2/2017).
Selain kepala sekolah yang harus akrab, Djarot menyebut peleburan aktivitas antarsekolah juga dapat membantu mengurangi tawuran di Jakarta. Djarot memberi contoh SMA 70 Jakarta dan SMA 6 Jakarta yang dulu sering terlibat tawuran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait tawuran yang melibatkan siswa antarsekolah, Djarot tak bisa memvonis sekolah itu. Sebab, sekolah bisa memberikan seribu alasan pembelaan diri.
"Kalau itu sekolahnya bisa berkelit. Itu terjadi di luar sekolah dan jam pelajaran, kata sekolahnya. Tidak bisa divonis langsung sekolahnya," jelas Djarot.
Meski demikian, Djarot akan tetap mengevaluasi sekolah-sekolah yang siswanya terlibat perkelahian massal. Siswa yang terlibat tawuran, jika diketahui mendapat KJP, akan dihilangkan hak KJP-nya.
"Sekolah akan kita evaluasi juga. Kami dorong guru BP mengontrol. Siswa tawuran yang dapat KJP itu dicabut," tutur Djarot.
Tawuran pelajar antara SMK Adiluhur dan SMK Bina Kandung pecah di jalan layang (flyover) Pasar Rebo, Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (14/2). Satu orang pelajar tewas dalam insiden memalukan itu. Empat pelajar pun telah ditangkap terkait dugaan keterlibatan tawuran
"Sudah ditangkap empat orang kemarin di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada detikcom, Senin (27/2). (gbr/idh)











































