Hari Buruh
Senin 27 Feb 2017, 19:10 WIB

Siswa Difabel di Semarang Ini Akhirnya Terima Ijazah

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Siswa Difabel di Semarang Ini Akhirnya Terima Ijazah Foto: Dok Pemkot Semarang
Semarang - Setelah tertahan selama 5 tahun, akhirnya ijazah sekolah diterima Muhammad Zulfikar Fauzi dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Wathoniyyah, Semarang. Didampingi orang tua dan kakaknya, pemuda berusia 20 tahun itu kini dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Warga Jalan Widuri 3, Kelurahan Bangetayu Kulon, ini sebelumnya kesulitan mengambil ijazah karena ada masalah administrasi di sekolahnya sejak lulus pada 2012. Anshori, ayah Zulfikar, mengaku sudah beberapa kali mengajukan surat keterangan tidak mampu kepada pihak sekolah, namun masih ada tagihan dari pihak Tata Usaha senilai Rp 30 juta.

"Tagihan tersebut makin lama makin membengkak hingga saat kelulusan, sehingga menghambat anak kami dalam memperoleh ijazah," ujar Anshori, Senin (27/2/2017).

Namun hal tersebut dibantah oleh Kepala MTs Al-Wathoniyyah, Kasno. Kasno sendiri tercengang mendengar besaran biaya tunggakan yang diadukan tersebut.

"Bagi sekolah kami, Rp 30 juta itu biaya yang sangat banyak. Setelah konfirmasi ke bendahara sekolah, biaya tunggakan tersebut hanya Rp 871.500. Selain itu, syarat utama dalam penerimaan ijazah adalah telah melakukan cap tiga jari, yang mana belum dilakukan oleh Zulfikar," tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, yang memediasi pihak siswa dan sekolah, berharap urusan ini dapat segera selesai. Pria yang akrab disapa Hendi ini kemudian meminta konfirmasi kepada pihak sekolah karena Dinas Pendidikan memiliki anggaran beasiswa untuk anak tidak mampu.

Hendi sempat menawarkan untuk menanggung biaya tersebut agar tidak menghambat pendidikan siswa berkebutuhan khusus itu. Namun Kasno menolak tawaran tersebut dan menggratiskan biaya karena Zulfikar berasal dari keluarga tidak mampu.

Hendi meminta Zulfikar mencatat nomor teleponnya apabila membutuhkan biaya SPP dan buku. Hal itu buat memastikan kelancaran studinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Karena saat ini kewenangan dalam pengelolaan SMA dan SMK negeri ada di pemerintah provinsi, saya minta Pak Bunyamin (Kepala Dinas Pendidikan) mengkoordinasikan dengan pihak provinsi," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zulfikar, yang menggunakan kursi roda, diminta melakukan cap tiga jari dan menerima ijazah yang selama ini tertahan. Ke depan, Hendi meminta Dinas Pendidikan Kota Semarang melakukan sosialisasi bahwa warga yang tidak mampu berhak memperoleh pendidikan yang layak.

"Kami melalui Dinas Pendidikan memiliki anggaran beasiswa yang bisa diberikan. Jika ada masalah, masyarakat bisa menyampaikan kepada kami agar segera ditindaklanjuti," pungkasnya.
(ega/dha)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed