"Kedekatan hubungan Indonesia dan Saudi Arabia seharusnya dapat memperkuat tekanan bagi internasional terhadap kemerdekaan Palestina dari Israel. Kedatangan Raja Saudi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia serta negara Islam terbesar yang melaksanakan sistem demokrasi di negaranya," ujar Meutya kepada wartawan, Senin (27/2/2017).
Tidak dipungkiri, hubungan antara Indonesia dengan Arab Saudi tidak selalu berjalan mulus. Meutya mengatakan masih adanya perbedaan pandangan antara kedua negara ini dalam hubungan internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa kali terjadi perbedaan pendapat antar kedua negara, salah satunya adalah perbedaan terkait operasi bersama terhadap Yaman. Perbedaan lainnya yaitu Indonesia menjadi penengah terhadap konflik Arab Saudi dengan Iran. Hal ini membawa dampak kerawanan geopolitik di Timur Tengah, serta menimbulkan kembali konflik Sunni-Syiah yang diwakili kedua negara," terang politikus Partai Golkar ini.
Persoalan TKI di Arab Saudi juga belum selesai. Selain itu, Meutya menyoroti nasib WNI yang dihukum mati di Arab Saudi.
"Masalah hubungan bilateral kedua negara belum selesai, khususnya terkait tenaga kerja Indonesia yang berada di Arab Saudi. Selain itu beberapa WNI saat ini juga tengah menghadapi hukuman mati di negara tersebut," ujar mantan jurnalis televisi swasta ini.
Oleh sebab itu, Meutya berharap agar pemerintah mengambil momentum semaksimal mungkin atas kunjungan Raja Salman ke Indonesia.
"Hendaknya pemerintah dapat menggunakan momentum langka ini untuk melalukan upaya upaya diplomasi maksimal, yang utama terkait perlindungan warna negara kita di Arab Saudi secara keseluruhan," pungkasnya. (dkp/imk)











































