Hilang Ginjal dan Disiksa di Qatar, Sri Rabitah: Saya TKI Ilegal

Danu Damarjati - detikNews
Senin, 27 Feb 2017 10:50 WIB
Ilustrasi ginjal (Dailymail)
Jakarta - Sri Rabitah, tenaga kerja wanita asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, mengaku kehilangan ginjal kanannya setelah bekerja di Doha, Qatar. Bahkan dia juga mengalami penyiksaan dari saudara sebangsa dan setanah air di negeri itu.

Setelah ditampung selama empat bulan oleh PT Falah Rima Hudaity Bersaudara, dia berangkat ke Doha. Sri sampai di Doha pada Juni 2014 dan ditampung oleh PT Aljazira.

Dia mengalami pengalaman yang mengerikan, yakni dibawa ke rumah sakit oleh majikannya. Setelah siuman, dia menyadari perut bagian kanannya telah dijahit. Belakangan, dia menyatakan ginjal kanannya telah diambil. Siksaan bertambah pedih kala dua orang Indonesia di PT Aljazira, Doha, menyiksanya dengan keji.

Meski demikian, Sri mengakui dia bukanlah TKI yang masuk ke Qatar sesuai dengan aturan. Dengan kata lain, dia adalah tenaga kerja selundupan.

"Saya berangkat pakai jalur ilegal," kata Sri kepada detikcom, Senin (27/2/2017).

Sri bahkan sadar pengiriman tenaga kerja informal seperti dirinya ke Timur Tengah sedang dikenai moratorium alias pemberhentian sementara oleh pemerintah Indonesia sejak 2011.

"Memang semenjak dulu sudah ditutup untuk ke Timur Tengah," tutur Sri.

Namun pada awalnya Sri dijanjikan untuk dipekerjakan di Abu Dhabi lewat jalur resmi. Ternyata tidak, dia masuk jalur ilegal dan bekerja di Doha, Qatar.

Saat mengalami penyiksaan dan ingin mengeluhkan sesuatu, Sri kesulitan menemui perwakilan pejabat RI di Doha. "Nggak ada pelindung TKI di sana," ujarnya.

Sri mengaku punya pengalaman kerja menjadi TKI di Arab Saudi selama empat tahun delapan bulan. Adik ipar Sri, yakni Karyadi, menjelaskan bahwa suami Sri juga merupakan TKI yang bekerja di Malaysia. Sri dan suaminya punya anak bayi berusia empat bulan.

Pada 2 Maret nanti, Sri akan menjalani operasi pengangkatan slang yang menjadi pengganti ginjal kanannya. Butuh biaya Rp 2,5 juta untuk operasi tersebut. Sri sendiri mengaku dibantu oleh asuransi BPJS, namun nyatanya dia masih harus mengeluarkan biaya sebagaimana pengobatan-pengobatan sebelumnya di rumah sakit umum daerah (RSUD) sekitar tempat tinggalnya.

"Mudah-mudahan ada keadilan buat Bu Sri," kata Karyadi. (dnu/dnu)