Tim Kementerian Luar Negeri RI melalui KBRI di Kuala Lumpur akhirnya diizinkan oleh pemerintah Malaysia bertemu dengan Siti Aisyah, WNI yang menjadi tersangka pembunuhan kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un, Kim Jong-Nam. Akses kekonsuleran itu dimanfaatkan KBRI untuk melakukan pencocokan data kewarganegaraan Siti Aisyah dan mengajukan beberapa pertanyaan.
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan, pada Kamis (23/2) malam, dirinya melakukan komunikasi terakhir dengan Menteri Luar Negeri Malaysia untuk kembali meminta diberi akses kekonsuleran. Retno menegaskan hal itu penting dilakukan terutama untuk memverifikasi status kewarganegaraan Siti Aisyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Retno mengatakan saat ini akses kekonsulerannya tersebut telah diberikan oleh pemerintah Malaysia. Dengan cepat, Retno memerintahkan KBRI di Malaysia menyiapkan beberapa pertanyaan kepada Siti Aisyah. Selain itu, KBRI telah menyiapkan tim kuasa hukum untuk Siti Aisyah.
"Pada saat saya menerima informasi tersebut (pemberian izin akses kekonsuleran, red), kita langsung melakukan komunikasi dengan kedutaan kita di Malaysia, menyiapkan akses kekonsuleran. Jadi, dalam konteks kunjungan kepada Siti Aisyah dan menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan kita sampaikan kepada Siti Aisyah. Dan kita sudah menyiapkan lawyer. Jadi KBRI kita sudah menyiapkan lawyer. Jadi kita sudah siap," jelas Retno.
"Dan hari ini (Sabtu, 25 Februari), pada pukul 10.00 WIB, kuasa usaha kita dan tim kekonsuleran KBRI, sudah menemui atau sudah menggunakan hak akses kekonsulerannya dan bertemu dengan Siti Aisyah. Dan kita juga membawa mobile device untuk mencocokkan sidik jari yang bersangkutan," tambah Retno.
Retno mengaku terus meminta info mengenai perkembangan terbaru soal Siti Aisyah, terutama hasil pertemuan akses kekonsuleran itu.
"Dan disampaikan bahwa data dari sidik jari yang diambil saat ini sedang dikirim ke Jakarta, karena pencocokannya kan ada di Imigrasi pusat di Jakarta. Sehingga kita masih menunggu hasilnya seperti apa," kata Retno.
"Tapi at least akses kekonsuleran sudah dibuka dan kita sudah mengambil data sidik jari yang bersangkutan untuk kemudian dicocokkan dengan data yang kita miliki," tambah Retno.
Meski demikian, Retno belum bisa memastikan kapan hasil pencocokan data itu bisa diketahui. (rjo/tor)











































