Peluncuran buku itu berlangsung di kantor ICW, Jl Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Jumat (24/2/2017). Salah satu sahabat Asep, Wiwiek Awiati, bercerita soal pembuatan buku ini.
"Ini kumpulan kesan dan kisah yang masih diingat sahabat dan kolega sepeninggal Asep. Ternyata banyak sekali kawannya semasa hidup, seperti multidimensional, semua orang terhubung dengan Asep, hingga jadilah buku ini," ungkap Wiwiek.
Foto: Aditya Fajar Indrawan/detikcom |
Buku tersebut disusun berdasarkan ungkapan pengalaman para sahabat saat bersama Asep. Tak kurang ada ratusan kesan dari teman-temannya tertuang dalam buku tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama Asep wayang golek, kedua Asep Rahmat Fajar, dan terakhir Asep Iwan. Tapi Asep Fajar yang bisa menghubungkan semua orang dari dimensi dan kalangan yang berbeda," gurau Asep Iwan saat memberikan obituari.
Asep meninggal pada usia 38 tahun dan meninggalkan seorang istri serta 2 anak yang masih sekolah. Asep dikenal sebagai pendiri MaPPI, yaitu sebuah lembaga di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dalam bidang pemantauan peradilan yang bersifat independen. Setelah menyelesaikan masa pendidikannya di UI, Asep melanjutkan studi untuk gelar master ke Spanyol.
Saat kembali ke Indonesia pada 2010, ia ditunjuk sebagai juru bicara KY hingga 2014. Lalu dia menempuh pendidikan doktoral jurusan hukum di Belanda dan sejak tahun lalu diminta Kepala Staf Presiden Teten Masduki membantu sebagai staf ahli presiden. (adf/bag)












































Foto: Aditya Fajar Indrawan/detikcom