"Pertama, ini proses hukum yang berjalan. Tapi sangat tidak logis, orang-orang di Indonesia membantu ISIS. ISIS itu pada waktunya suatu organisasi katakanlah dianggap teroris paling kaya, ngapain dibantu-bantu," ujar JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (24/2/2017).
Bahkan ISIS disebut JK memiliki sumber minyak dan gudang uang meski telah dihantam bom oleh pihak sekutu. "Jadi apa urusannya Indonesia kirim ISIS (uang) itu," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya yakin tidak ada gunanya membantu ISIS, buat apa? Mereka lebih kaya dari orang yang ingin membantu," kata JK.
Kapolri sebelumnya mengatakan Polri telah menemukan bukti transfer dana sebesar Rp 1 miliar dari Bachtiar Nasir ke Turki.
Hingga saat ini kepolisian belum mengetahui peruntukkan dana yang dikirim ke Turki. Sementara itu, Kabag Penum Kombes Martinus Sitompul, mengatakan bukti transfer tersebut akan dijadikan barang bukti.
"Bukti transfer itu jadi barang bukti, kita tidak bisa sebutkan karena untuk instansi penyidikan, kalau itu di publish itu bukan rahasia, subtansi penyidikan tidak bisa dibuka untuk publik," tegas Martinus.
Pengacara Bachtiar Nasir, Kapitra Ampera, membantah pernyataan Tito. Kapitra mengakui memang ada aliran uang dari Yayasan ke Turki, yang ditujukan ke IHH Humanitarian Relief Foundation.
Menurut Kapitra, uang itu dikirim oleh Islahuddin Akbar (pegawai bank yang menjadi tersangka penyelewengan dana yayasan) melalui rekening berbagi, bukan rekening YKUS. (fiq/fdn)











































