Ini Isi Pertemuan Anies-Sandi dengan Prabowo dan Titiek Soeharto

Ini Isi Pertemuan Anies-Sandi dengan Prabowo dan Titiek Soeharto

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Kamis, 23 Feb 2017 20:00 WIB
Ini Isi Pertemuan Anies-Sandi dengan Prabowo dan Titiek Soeharto
Foto: dok. Istimewa
Jakarta - Cagub-cawagub DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno pada Rabu (22/2) malam bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan politikus Golkar Titiek Soeharto. Dalam momen hangat kekeluargaan tersebut, keempatnya sempat membahas demokrasi Indonesia yang disebut kebablasan.

"Jadi, Mas Anies yang bilang ada sebuah pembahasan bahwa demokrasi kebablasan. Oh, justru kita lagi menunjukkan kepada dunia, Pak Prabowo, Anies, dan Mbak Titiek, dan saya sepakat bahwa demokrasi yang kita jalankan ini sebetulnya produk sebuah demokrasi Pancasila yang bersanding baik sekali dengan kematangan daripada warga melakukan exercise demokrasinya," ujar Sandiaga kepada detikcom di Jalan Adityawarman No 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/2/2017).

Secara keseluruhan, demokrasi Indonesia saat ini dipandang keempatnya tengah menuju sebuah transformasi dari masa 20 tahun lalu. Prabowo dan Titiek, dikatakan Sandiaga, merupakan saksi hidup dari rezim saat itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara keseluruhan, kita melihat bahwa demokrasi ini, kita lagi transformasi dari negara yang mungkin, yang 20 tahun lalu, mungkin otoriter. Dan mereka itu kan justru bagian dari Pak Harto dulu. Mereka justru merasakan demokrasi itu, ini adalah sebuah Indonesia yang baru, fenomena Indonesia yang baru," jelasnya.

Sandiaga tidak menyebut demokrasi kebablasan yang dikatakan Presiden Joko Widodo tepat ataupun tidak tepat. Namun kematangan demokrasi saat ini dapat dilihat dari peran berbagai unsur yang ada.

"Kita bilang justru kita-kita ini adalah produk dari demokrasi Indonesia. Jadi pers-media memainkan peran, DPR memainkan peran, partai politik memainkan peran, kita sebagai tokoh-tokoh memainkan peran, dan rakyat juga memainkan peran," imbuhnya.

"Dan sebetulnya ungkapan demokrasi kebablasan itu mungkin sebagai bentuk koreksi dari misalnya media sosial yang terlalu bablas, ya itu mungkin saya sepakat. Tapi kalau misalnya berkaitan dengan hak rakyat menjalankan pesta demokrasi, itu menurut saya sangat luar biasa," sambungnya. (nvl/erd)


Berita Terkait