Soal Demokrasi Kebablasan, PDIP: Ada Ujaran Kebencian di Pilkada

Soal Demokrasi Kebablasan, PDIP: Ada Ujaran Kebencian di Pilkada

Erwin Dariyanto - detikNews
Rabu, 22 Feb 2017 15:42 WIB
Soal Demokrasi Kebablasan, PDIP: Ada Ujaran Kebencian di Pilkada
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa demokrasi Indonesia saat ini sudah kebablasan. Praktik demokrasi politik saat ini sudah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang tak biasa. Seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme dan lainnya.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa apa yang disampaikan Presiden Jokowi itu harus dicermati. Dalam praktiknya demokrasi di Indonesia sekarang ini memang jauh dari nilai-nilai warisan budaya bangsa. Seperti perikemanusiaan, gotong royong, musyawarah mufakat, menghormati dan teposliro.

"Kalau kita melihat tatanan demokrasi Indonesia yang dibangun itu didasarkan pada Pancasila, prikemanusiaan, musyawarah mufakat dan keadilan sosial. Demokrasi itu hidup di wilayah budaya politik, gotong royong, menghormati tepo sliro," kata Hasto ketika berbincang, Rabu (22/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sehingga, kata Hasto, praktik demokrasi di Indonesia harusnya dijalankan tetap dalam tradisi kebudayaan bangsa sendiri. "Kita bukan demokrasi ala barat, kita demokrasi yang dibangun dalam tradisi Indonesia," tambah Hasto.



Sayangnya, kini praktik demokrasi dijalankan dengan kecenderungan saling menghujat dan menyebarkan ujaran kebencian. "Itulah instrumen dasar demokrasi kebablasan," papar Hasto.

"Misalnya dalam Pilkada itu, ini mencari kepala daerah yang berkualitas, mumpuni dengan track record bagus. Tetapi yang muncul kemudian adalah mobilisasi massa dan penyebaran ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan demokrasi budaya Indonesia," tambah dia. (erd/fjp)


Berita Terkait