Banjir yang mengepung wilayah Jakarta, Bekasi, dan Tangerang pada Selasa (21/2/2017) menunjukkan bahwa wilayah tersebut masih rentan terhadap banjir. Bahkan di beberapa wilayah makin meningkat.
Hal ini tidak terlepas dari dampak perubahan penggunaan lahan yang begitu pesat di wilayah Jabodetabek, sehingga hampir 80 persen hujan jatuh berubah menjadi aliran permukaan. Sementara itu, kapasitas drainase dan sungai jauh lebih kecil daripada debit aliran permukaan. Akibatnya, banjir dan genangan terjadi di mana-mana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo menyampaikan hal itu dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa (21/2). Kapasitas sungai-sungai dan drainase perkotaan untuk mengalirkan aliran permukaan masih terbatas.
"Okupasi bantaran sungai menjadi permukiman padat menyebabkan sungai sempit dan dangkal. Sungai yang harusnya lebar 30 meter, saat ini hanya sekitar 10 meter. Bahkan ada sungai yang 5 meter. Sudah pasti kondisi tersebut menyebabkan banjir. Relokasi permukiman di bantaran sungai adalah keniscayaan jika ingin memperlebar kemampuan debit aliran. Tapi sering kali relokasi sulit dilakukan karena kendala politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat," paparnya.
Dia menambahkan penataan ruang harus dikendalikan. Daerah-daerah sempadan sungai, kawasan resapan air, dan kawasan lindung harus dikembalikan ke fungsinya.
"Tidak mungkin Pemda Jakarta sendirian mengatasi banjir. Harus kerja sama dengan pemerintah pusat dan pemda lain. Studi banjir dan masterplan pengendalian banjir sudah ada sejak lama. Tinggal komitmen bersama," tandasnya. (nwk/fdn)










































