"Massa besok menginap di tempat masing-masing. Adapun yang dari luar kota, kami menyerukan kepada pengurus masjid yang ada di Jakarta, khususnya di sekitar DPR, untuk membuka pintunya karena massa kita insya Allah dari daerah akan tertib akan teratur," ujar Sekjen FUI Muhammad al-Khaththath di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/2/2017).
"Dan tugas pengurus masjid, menurut syariat Islam, adalah ikram (penghormatan/pemuliaan). Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya meng-ikram atau menghormati tamunya, yaitu memberikan tempat tidur, memberikan pelayanan, memberikan makanan, itu kewajibannya," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai aksi yang tidak berjauhan dengan aksi 112, Al-Khaththath beralasan FUI tidak akan menggelar aksi jika Habib Rizieq, Bachtiar Nasir, dan Munarman tidak terjerat kasus oleh kepolisian. Selain itu, FUI mempersoalkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diaktifkan kembali sebagai Gubernur DKI Jakarta.
"Kalau seandainya tidak ada kriminalisasi terhadap ulama, insya Allah kita nggak akan buka aksi, kecuali hanya terhadap Basuki Tjahaja Purnama. Ini kita lihat ada kriminalisasi merembet, yang tadi sudah dibahas oleh Bapak Mahendra adalah bisa merembet ke semua bahkan bisa ke anggota DPR, wartawan sekalipun ini sangat berbahaya," jelas Al-Khaththath.
"Kalau rezim represif dibiarkan, itu bukan hanya ulama dan aktivis yang kena, bahkan wartawan kena, anggota DPR kena. Saya kira ini harus kita jaga bersama," sambung Al-Khaththath.
Besok, perwakilan FUI akan bertemu dengan Komisi III DPR. Al-Khaththath berharap agar pimpinan DPR dapat ditemui.
"Itu tergantung situasi dan kondisi ya. Besok saya kita lihat, siapa tahu pimpinan DPR keluar ingin ketemu dengan massa. Itu bukan suatu yang mustahil, hal yang ada di DPR semua adalah karena DPR lembaga politik dan politik serba-berpeluang," sebut Al-Khaththath. (rvk/van)











































