Seperti diketahui, dua pasangan yang terpilih maju di putaran kedua adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Selisih perolehan suara dua pasangan itu relatif cukup kecil.
Lembaga pemantauan independen, Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) memaparkan aspek partisipasi warga Jakarta masih cukup tinggi sehingga untuk perolehan suara diputaran kedua, paslon harus menajamkan visi dan misinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, saat ini tim pemenangan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi harus mulai meyakinkan warga yang masih golput. Warga yang belum menentukan pilihan ini lebih mudah diyakinkan daripada warga pendukung pasangan nomor urut 1, Agus-Sylvi, yang gagal ke putaran kedua.
"Meyakinkan warga Jakarta untuk datang ke TPS itulah kunci utama paslon karena jumlah golput jauh lebih banyak dari jumlah perolehan suara paslon nomor urut 1, dan mengubah suara pendukung nomor urut 1 lebih sulit daripada menggerakkan masyarakat yang belum menentukan pilihan," ujar Hafidz.
"Dari 900 ribu pendukung Agus-Sylvi itu juga berkontribusi untuk golput, kalau tidak ada yang menarik, dia akan mengarah ke golput," tambahya.
Terkait prediksi pemilih golput di putaran kedua nanti, Hafidz berkeyakinan akan lebih kecil dibandingkan di putaran pertama. Untuk itu dia menyarankan agar partai pengusung dua pasangan calon fokus pada warga yang golput dibanding mencari dukungan dari parpol yang mendukung Agus-Sylvi.
"Kepada para pemilih Agus-Sylvi yang terdorong ke golput, parpol harus berpikir bagaimana mereka memilih dan menentukan putaran kedua. Fokus paslon 2 dan 3 itu fokus ke pemilih yang tidak menentukan pilihannya," tutupnya. (nth/elz)











































