DetikNews
Jumat 17 Februari 2017, 01:34 WIB

Timses Ahok-Djarot Mengaku Dapat Kekerasan di TPS 18 Gambir

Bisma Alief Laksana - detikNews
Timses Ahok-Djarot Mengaku Dapat Kekerasan di TPS 18 Gambir Foto: Bisma Alief/detikcom
Jakarta - Relawan pasangan cagub-cawagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat membeberkan peristiwa tidak mengenakkan yang dialami oleh Ketua Koordinator Pemenangan Ahok-Djarot Jakarta Pusat Pandapotan Sinaga. Pandapotan mengaku mengalami kekerasan fisik dan verbal saat sedang melakukan monitoring di TPS 18, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat.

Ditemani oleh anggota DPRD DKI dari Fraksi PDIP Pantas Nainggolan dan anggota DPR Masinton Pasaribu, Pandapotan menceritakan pengalamannya saat konferensi pers di Rumah Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat. Dia mengatakan, saat melakukan monitoring di TPS 18, dirinya diusir oleh tim pengawas yang berada di TPS tersebut. Menurutnya, saat itu dia menemukan para saksi pasangan Ahok-Djarot tidak mengenakan kemeja kotak-kotak.

"Hari Rabu kemarin, saya melakukan monitoring di TPS-TPS di Jakarta Pusat. Sekitar pukul pukul 11.30 WIB, saya sampai di TPS 18. Di sana saya lihat saksi paslon nomor 2 tidak pakai baju kotak-kotak. Padahal, di aturan KPU memperbolehkan, makanya saya tanya kepada mereka kenapa tidak pakai baju kotak-kotak. Tapi, pas sampai di tempat, saya diusir oleh tim pengawas di TPS. Dia menghampiri dan bilang akan dibuat berita acara. Lalu saya turun dari lokasi (TPS), kebetulan TPS-nya di ruko, saya diinterogasi. Ada yang bilang saya bikin keributan. Lalu saya bilang kalau saya Ketua DPC PDIP Jakarta Pusat dan saya penanggung jawab saksi di wilayah Jakarta Pusat," kata Pandapotan di Rumah Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (16/2/2017).

Pandapotan mengaku saat itu dia diminta menunjukkan KTP-nya. Di KTP pada kolom pekerjaan tertulis anggota DPRD. Dia mengaku diminta menunjukkan kartu tanda anggota DPRD miliknya. Namun, lanjutnya, saat itu dia tidak membawa KTA. Setelah itu, dia mengaku Ketua RW 07 setempat menempelkan kepalanya pada Pandapotan. Dia juga menyebut ada beberapa orang yang mengucapkan kata-kata kotor padanya.

"Saya kasih KTP, di kolom kerjaan saya tertulis anggota DPRD. Lalu saya diminta KTA, saya bilang buat apa, saya posisinya tidak membawa KTA. Lalu datang segerombolan orang mendorong-dorong dan menyatakan saya anggota DPRD gadungan. Ketua RW 07 lalu menempelkan jidat ke kepala saya. Ada juga yang menarik saya. Saya akan tuntut karena sewenang-wenang pada saya," ujarnya.

"Sekitar setengah jam, baru polisi datang ke lokasi. Keluar ucapan 'jangan dibawa ke polsek, biar dihabisin di sini'," lanjutnya.

Sementara itu, Masinton mengatakan kejadian yang melibatkan Pandapotan itu sudah viral di media sosial. Namun berita yang beredar banyak yang merupakan berita bohong. Dia pun mengancam akan memproses hal tersebut.

"Dalam peristiwa ini, sebelum dicaci-maki, ada kekerasan fisik terhadap Pak Pandapotan. Disebutkan ada diviralkan dan ada pemelintiran berita yang sifatnya hoax di media sosial. Kami minta yang memviralkan segera menghapus dan kami akan melaporkan tindakan pemutarbalikan fakta ini. Ini pasti sengaja, pasti kena UU ITE. Kami minta penegak hukum memproses. Kami minta aparat memproses siapa yang melakukan pencegatan. Apalagi ini ketua RW, yang seharusnya menjaga situasi kondusif, malah melakukan provokasi pada Pak Pandapotan," ujar Masinton.

Pantas Nainggolan lalu mengatakan pihaknya sudah melaporkan apa yang dialami oleh Pandapotan kepada kepolisian. Dia menyebut membawa bukti video dan saksi polisi yang hadir di TKP.

"Kemarin (sudah dilaporkan), pas habis peristiwa, langsung dibawa ke polsek, lalu ke Polda. Buktinya adalah video dan polisi yang hadir di TKP," tutupnya.
(bis/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed