Banjir Surut, Bukit Duri Masih Gelap Gulita

Banjir Surut, Bukit Duri Masih Gelap Gulita

Bartanius Dony - detikNews
Kamis, 16 Feb 2017 20:49 WIB
Banjir Surut, Bukit Duri Masih Gelap Gulita
Kawasan Bukit Duri mati lampu. (Dony/detikcom)
Jakarta - Banjir yang menggenangi daerah Bukit Duri, Jakarta Selatan, sudah surut sejak siang tadi. Namun listrik di daerah ini belum juga menyala.

Pantauan detikcom malam ini, pukul 19.00 WIB, Kamis (16/2/2017), sepanjang Jalan Taman Bukit Duri, Jakarta Selatan, masih gelap gulita. Hanya ada beberapa rumah yang memakai bantuan cahaya lilin.

Ria (38), seorang ibu rumah tangga, mengatakan diperkirakan listrik di tempat itu mati hingga esok hari. Dia juga mengaku listrik di tempatnya mati sejak pukul 03.00 WIB tadi, saat banjir mulai menggenangi kawasan itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia pun menggunakan lilin di rumahnya sebagai alat penerangan. "Paling sampai besok, Mas. Ini pakai lilin," ujarnya saat ditemui di lokasi.

Ria, yang memiliki anak kembar bernama Lena dan Leni, hidup di daerah itu sejak tahun 1987. Saat ini dia tinggal di tempat kontrakan di RT 03 RW 12.

Dia bercerita, terakhir daerah itu digenangi banjir adalah pada tahun 2012. Dia berharap memiliki rumah sendiri untuk membesarkan anaknya. Ria juga menyatakan, jika memang direlokasi, dengan terpaksa dia pindah.

"Inginnya punya rumah sendiri, buat gedein anak gitu. Kalau direlokasi, ya terpaksa mau," tuturnya.

Sementara itu, Ujang (59), warga RT 01 RW 12, menjelaskan pihak PLN akan menyalakan listrik jika ada persetujuan dari warga melalui ketua RT setempat.

"Tergantung persetujuan lingkungan, tergantung ketua RT. Kalau RT sudah ada persetujuan, ya dinyalakan PLN," jelasnya.

Dia tidak mengetahui kira-kira berapa lama listrik akan mati, namun dirinya berharap secepatnya listrik bisa nyala. Berbeda dengan Ibu Ria, Ujang tidak setuju jika harus direlokasi, karena takut mata pencariannya hilang.



Ujang mengaku bekerja sebagai juru parkir di SMAN 8 Jakarta. "Saya parkir di SMAN 8, sejak tahun 1994," katanya bercerita.

"Kalau banjir, saya nggak takut. Saya takut digusur. Kalau digusur, apa nggak sakit gigi," selorohnya.

Namun, jika memang harus dipindahkan, dia berharap kepada pemerintah agar tidak menggunakan cara kekerasan.

"Kalau mau digusur, ya nggak apa-apa, tapi jangan pakai kekerasan," pungkasnya. (brt/rvk)


Berita Terkait