Gamelan Sekaten Mulai Ditabuh
Jumat, 15 Apr 2005 16:48 WIB
Yogyakarta - Untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Maulud (22 April 2005), dua perangkat gamelan Kraton Yogyakarta mulai ditabuh. Dua perangkat gamelan sekaten, Kiai Guntur Madu dan Kiai Nogowilogo mulai hari ini Jumat (15/4/2005) dibunyikan di bangsal Pagongan halaman Masjid Besar Kauman.Dua perangkat gamelan yang menjadi sarana utama penyiaran agama Islam itu,selama satu minggu mulai hari ini hingga Kamis depan (21/4/2005) mulai pukul 09.00 - pukul 22.00 WIB terus dibunyikan.Sehari sebelum gamelan itu ditabuh, Kraton Yogyakarta menggelar prosesi Miyos Gangsa (gamelan keluar). Pada Kamis malam kedua perangkat gamelan itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di bangsal Sri Manganti menuju Bangsal Ponconiti.Sebelum dibawa menuju Masjid Besar Kauman, di Bangsal Ponconiti dilakukan prosesi Nyebar Udhik-udhik berupa uang pecahan yang dilakukan dua orang adik Sultan, GBPH Prabukusumo dan GBPH Yudhaningrat.Sejak pagi pukul 09.00 - 11.00 gamelan Kiai Nogowilogo yang ada di sisi utara dan Kiai Gunturmadu yang ada di sisi selatan dibunyikan secara bergantian. Setelah salat Jumat, gamelan mulai ditabuh lagi hingga malamhari oleh para abdi dalem kraton.Acara Sekaten yang berasal dari kata Syahadatain itu merupakan sebuahtradisi penyebaran agama Islam yang dilakukan sejak zaman Kraton Demak/zamanSunan Kalijaga hingga kini. Waktu itu pada saat gamelan dibunyikan, wargamasyarakat yang bertekad memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimatSyahadat, sebagai syarat. Istilah Syahadat atau Syahadatain yang diucapkanitu kemudian berangsur- angsur berubah pengucapannya menjadi sekaten hinggasekarang.Pada saat gamelan dibunyikan, warga yang mendengarkan di sekitar halamanmasjid disyaratkan mengunyah sirih. Hal itu dipercaya akan mendatangkan berkah dan dianugerahi awet muda.Selain daun sirih, di halaman masjid juga dijual nasi gurih lengkap denganlauk pauknya. Tradisi makan sirih dan nasi gurih mengandung maksud bahwasetelah mengucapkan kalimat syahadat, mereka mantap telah masuk Islam.
(nrl/)











































