"Makanya dari itu, ini evaluasi bagi KPU. Karena ketentuannya 2,5 persen dari DPT," ujar Djarot di gedung Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (16/2/2017).
"Tapi kita harus antisipasi juga, jangan sampai mereka nggak bisa menggunakan hak pilihnya. Supaya sesuai dengan imbauan KPU di mana-mana ayo memilih, ayo memilih itu kan untuk mendongkrak partisipasi," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begitu mereka menggunakan haknya untuk memilih, mereka nggak bisa. Yang kedua, masalah jam, itu mereka kaku banget. Pukul 13.00 WIB selesai. Padahal banyak yang antre. Ini harus dievaluasi juga," ujarnya.
"Di lain sisi, tingkat partisipasi tinggi, di sisi lain, aturan kita terlampau kaku, 2,5 persen dari DPT loh. Kita tahu bahwa ada yang tidak masuk DPT karena ketika didatangi di rumahnya mereka nggak ada," sambungnya.
Djarot juga mengapresiasi antusiasme warga untuk memeriahkan pesta demokrasi. Menurutnya, banyak warga yang tinggal di luar negeri kembali untuk mencoblos.
"Kedua, warga yang tinggal di luar negeri pada datang semua. Itu kita kasih apresiasi kepada warga Jakarta yang kemarin kita prediksi tingkat partisipasinya menurun. Tapi kan ini antusias. Ini yang menggembirakan kami," sambungnya.
"Ini jadi evaluasi juga bagi penyelenggaraan Pilkada di Jakarta. Kalau misalnya tingkat partisipasi bisa 85 atau 90 persen kan bagus. Ini aja 80 persen," imbuh dia.
Djarot juga menyoroti tentang warga yang sudah rela antre lama namun kehabisan surat suara. Dia berharap KPU DKI menyiapkan Pilgub putaran kedua dengan lebih matang.
"Kami dapat laporan mereka udah datang berjam-jam di sana tapi surat suaranya hanya tinggal 20, yang datang banyak sekali. Terus sudah tutup. Ya sudah itu sebagai pembelajaran evaluasi supaya tanggal 19 April itu kita lebih siap lagi," pungkasnya. (ams/fdn)











































