Arya menjelaskan, salah satu faktor penting yang memengaruhi penurunan suara yakni penampilan Agus-Sylvi dalam debat. Padahal, dalam survei yang dilakukan sebelum debat, elektabilitas Agus mengungguli kompetitornya.
"Agus kehilangan momentum positif untuk mempertahankan suaranya. Apalagi kalau kita lihat data survei Kompas yang dilakukan awal Desember. Agus mendekati hampir 40 persen. Ia kehilangan momentum untuk mengikat hati publik dan basis pemilih loyal," ujar Arya saat berbincang dengan detikcom, Kamis (16/2/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kehilangan momentum ditandai performa yang kurang maksimal dalam putaran debat. Misalnya penurunan drastis suara Agus dari 35 persen ke 17 persen terjadi setiap putaran debat. Hampir setiap putaran debat terjadi penurunan," jelas Arya.
Selain faktor performa debat, turunnya suara Agus dinilai dipengaruhi oleh mesin partai politik pendukung. Kerja Partai Demokrat sebagai partai pengusung mendominasi dibanding parpol lainnya.
"Dukungan partai menjadi titik lemah karena muncul kesan yang kurang positif. Seolah-olah hanya Demokrat yang dominan dalam proses kampanye. Mesin partai pendukung lain nggak begitu kelihatan. Itu jadi titik lemahnya. Saya kira mesin partai lain belum terlihat," ungkapnya.
Data penghitungan riil (real count) sementara KPU DKI Jakarta pukul 12.35 WIB dengan data masuk 41,91 persen, Ahok-Djarot masih memimpin suara. Disusul oleh Anies-Sandiaga di posisi kedua. Sementara Agus-Sylvi berada di posisi buncit.
Agus Yudhoyono-Sylviana Murni 16,10 persen
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat 44,48 persen
Anies Baswedan-Sandiaga Uno 39,41 persen (nkn/erd)











































