"Dari profil yang kita terima, dia pemilik dan pendiri Pandwa Group. Karena Pandawa Group ini juga sudah berupa badan koperasi, dia jadi ketua koperasinya juga," ujar Mikael Marut selaku kuasa hukum 173 korban kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (13/2/2017).
Mikael menduga ada aktor intelektual di belakang Nuryanto. Sebab, dari informasi yang dihimpun oleh para kliennya, Nuryanto tidak memiliki kompetensi memimpin badan usaha tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Informasi soal pekerjaan Nuryanto ini, menurut Mikael, diperoleh dari sejumlah orang. "Tahu dari orang-orang sekitar tempat tinggal Nuryanto dan beberapa teman Nuryanto," imbuhnya.
Menurut Mikael, para nasabah awalnya tidak sampai menelaah sosok Nuryanto ini. Namun, setelah profit yang dijanjikan Nuryanto dalam investasi tersebut mulai mengalami kemacetan, sejumlah nasabah mulai mencari tahu soal sosoknya.
"Tapi itu (ketahuan tukang bubur) setelah dia kabur ini. Sebelumnya nasabah tidak tahu," cetusnya.
Sementara itu, Mikael memperlihatkan foto Nuryanto kepada wartawan. Dalam foto tersebut, Nuryanto mengenakan sorban berwarna putih serta gamis putih dan berkacamata.
"Ini dia sama adiknya," ucap Mikael sambil menunjukkan foto Nuryanto.
Tetapi Mikael tidak memberikan penjelasan lebih jauh, apakah Nuryanto adalah seseorang yang dikenal sebagai tokoh agama juga atau bukan. Tetapi, dari foto lainnya yang ditunjukkan oleh Mikael, Nuryanto terlihat kerap mengenakan pakaian yang sama.
"Dia suka bikin pengajian. Paling dia penyelenggara, yang dakwah itu orang lain. Dia minta ke leader-nya untuk (mengadakan) pengajian, kumpulin masyarakat, kemudian disisipin dengan promosi Pandawa," ujar Koto Sitorus, selaku kuasa hukum korban lainnya. (mei/fjp)