SD ini resmi berdiri pada 2013. Sejak itu dan hingga saat ini, kondisinya tak berubah. Ada 98 siswa di sekolah ini. Sebagian besar merupakan anak-anak Cisarua. Mereka diajar 4 guru, 1 pria dan 3 wanita.
Kelas Jauh SDN Sirna Asih memiliki tiga 'ruang kelas'. Satu beratap terpal, sisanya di aula, yang dulu merupakan pesantren dan rumah milik warga. Tiga lokasi ini berdekatan, berada di pinggir sawah dan berdampingan dengan kandang kambing.
Ruang kelas terpal berukuran 6 x 4 meter. Penderitaan siswa sangat terasa pada musim hujan. Air menetes melalui lubang kecil pada terpal dan membasahi meja-kursi. Selain itu, lantai tanah jadi becek. Tak jarang, kegiatan belajar-mengajar dihentikan karena guyuran hujan.
Foto: Farhan/detikcom |
"Itu jalur setapak. Ada jalur lain, tapi tambah jauh," tambahnya.
Salah satu guru, Neni Sultonah (34), yang ditemui di rumahnya, Kampung Citambuan, Desa Banyuresmi, Kecamatan Cigudeg, mengaku mengajar di Kelas Jauh SDN Sirna Asih bukan pilihan yang mudah baginya.
Neni Sultonah, guru Kelas Jauh SDN Sirna Asih, Kabupaten Bogor (Farhan/detikcom) |
Sebelumnya, Neni mengajar TK di Jakarta Selatan. Ia memikirkan selama 3 bulan sebelum menerima tawaran ayahnya untuk mengajar di SD tersebut. Dia senang anak didiknya bersemangat meski kondisi sekolah tidak memadai. (try/try)












































Foto: Farhan/detikcom
Neni Sultonah, guru Kelas Jauh SDN Sirna Asih, Kabupaten Bogor (Farhan/detikcom)