Beri Arahan di Kantor Walkot Jakpus, Djarot Cerita Momen Pilkada

Beri Arahan di Kantor Walkot Jakpus, Djarot Cerita Momen Pilkada

Nathania Riris Michico - detikNews
Senin, 13 Feb 2017 14:47 WIB
Beri Arahan di Kantor Walkot Jakpus, Djarot Cerita Momen Pilkada
Foto: Nathania Riris Michiko/detikcom
Jakarta - Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengadakan pertemuan dengan Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede. Sambil memberikan arahan, Djarot berbagi cerita tentang momen Pilkada DKI Jakarta dan Pilkada Blitar yang dilaluinya.

Djarot bercerita mengenai 3 bulan masa kampanye yang dilaluinya. Dia curhat kepada Sekda DKI Saefullah dan Kepala BKD DKI Agus Suradika lantaran Pilkada dirasa merenggangkan relasi yang dijalinnya di lingkungan kerja.

"Sebetulnya jujur saya 100 hari lebih kami kadang merasa karena sistem saja, padahal silaturahim berjalan dengan baik. Saya mau mampir ke kantor kelurahan nggak enak, ke kantor kecamatan nggak enak, ketemu sampean semua, sampai ajudanku Ilham itu juga pura-pura nggak kenal daripada dilaporin. Saya sampai curhat sama Pak Suradika, Pak Sekda, Pilkada seakan-akan menakutkan sehingga silaturahim kita sama-sama takut, kami nggak enak, sampean nggak enak, ini ada apa toh," kata Djarot saat memberi arahan di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat, Senin (13/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para PNS senyam senyum saat mendengarkan cerita Djarot tersebut. Dalam kesempatan itu, Djarot juga menceritakan momen penghadangan yang dialaminya saat blusukan. Dia merasa ada pihak yang sengaja membangun persepsi buruk untuk memutus tali silaturahim dengan warga saat masa kampanye.

"Datang wis dihadang di Kedoya, ada Wali Kota datang juga Kapolres datang, itu pun dilaporkan. Jadi gini loh, kita selalu dibangun rasa kecurigaan, niatnya sudah nggak baik sehingga bisa memutus merenggangkan tali silaturahim. Saya tahu saya bukan orang baru di pemerintahan, bisa memisahkan urusan kantor dan mana urusan di luar kantor," tuturnya.

Sewaktu menjadi Wali Kota Blitar selama 5 tahun pertama, Djarot mengisahkan tidak memiliki rumah dan harus ngekos di rumah dinas. Bahkan ketika mencalonkan diri lagi, dia harus mencari rumah kontrakan sendiri.

"Waktu di Blitar pun jadi Wali Kota di Blitar lima tahun, saya belum punya rumah, saya kos di rumah dinas, nggak kepikiran beli rumah, begitu mencalonkan lagi Pak ini nggak boleh dipakai, terus bagaimana, nyari kontrakan, jadi wali kota yang ngontrak saya ini," kisahnya.

Bahkan saat di Blitar, dia juga menolak menggunakan mobil dinas saat kampanye. Meski tetap tinggal di rumah kontrakan, dia mengaku situasi tetap aman dan saling menjaga.

"Saya tidak mau gunakan mobil dinas meskipun kampanye Sabtu-Minggu. Saya bilang karena sudah masa kampanye dan sudah daftar saya tetap di rumah kontrakan, tapi tetap ngantor. Sangat patuh tapi tidak memutus tali silaturahim. Tapi saya tahu ini saling menjaga, saya menjaga anda, anda menjaga kami," tutupnya. (aan/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini