"Sebagai orang yang pernah memimpin negeri ini selama 10 tahun, saya tentu tidak ingin negara yang dengan segala jerih payah dan pengorbanan ini kita bangun, lantas dirusak oleh tangan-tangan yang serakah dan tidak bertanggung jawab. Kita semua tidak rela," tulis SBY di 'wall' akun Facebook-nya, @SBYudhoyono, pada 11 Februari 2017, sebagaimana diakses detikcom pada Senin (13/2/2017).
Dia berharap warga Jakarta tidak salah pilih di Pilgub DKI 2017. Soalnya, pilihan warga bakal menentukan nasib Ibu Kota lima tahun ke depan. Pada 15 Februari nanti akan menjadi hari yang bersejarah. Maka pilihan warga Ibu Kota juga harus didasarkan pada kriteria yang baik, bukan pada uang yang disodorkan kepada pemilih. Politik uang harus dihindari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SBY menilai warga Jakarta bakal memilih calon gubernur yang tegas, memikirkan semua warganya, pandai menjaga perkataan dan tindakan, tidak membatasi kegiatan keagamaan, bisa mengurangi pengangguran, meningkatkan ekonomi warganya, memajukan pendidikan, mampu memberdayakan rukun tetangga dan rukun warga, hingga menolak reklamasi.
"Gubernur yang pandai menjaga perkataan dan tindakannya, agar tidak mengganggu kebinekaan masyarakat Jakarta yang berbeda-beda dalam agama, etnis, suku bangsa, dan asal daerahnya. Gubernur yang tidak mengekang dan membatasi kegiatan umat Islam dalam peringatan hari-hari besar Islam, dan juga aktivitas agama yang lain," tutur SBY, yang juga ayah calon Gubernur DKI nomor urut 1 Agus Yudhoyono.
Reklamasi, menurut SBY, bersifat merusak kehidupan. Apalagi proyek itu dinilai tak memenuhi syarat. Maka SBY menilai gubernur selanjutnya akan baik bila bersikap menolak reklamasi.
"Gubernur, yang setelah dilakukan pengkajian, berani menghentikan obyek-obyek reklamasi yang nyata-nyata merusak dan tidak memenuhi syarat, serta tidak memberikan solusi bagi para nelayan dan warga yang kehilangan mata pencariannya," kata dia.
Dia mengajak masyarakat untuk mengawasi Pilgub DKI 2017 agar tak terjadi kecurangan. Masyarakat diajaknya untuk tak rela suaranya dicuri. Bila ada orang yang bukan penduduk Jakarta atau bukan warga negara Indonesia ikut memilih, masyarakat perlu melapor ke Bawaslu.
"Jangan rela suara masyarakat Jakarta dicuri, sehingga jika ada orang yang bukan penduduk Jakarta ikut memilih, baik dari luar Jakarta maupun dari negara lain (orang asing), lakukan pencegahan dan laporkan kepada Bawaslu dan pihak-pihak yang berwajib," tuturnya. (dnu/dnu)











































