"Agus yang mulai tertinggal memanfaatkan mengambil momentum di putaran ketiga, taktik yang digunakan, Agus mengubah taktik, kalau debat pertama dan kedua masih malu-malu melakukan 'serangan', di debat ketiga Agus berani melakukan 'serangan'. Pada debat kedua yang ambil peran itu Anies, peran Anies kini diambil Agus," ujar Arya saat berbincang dengan detikcom, Jumat (10/2/2017) malam.
"Sebaliknya Anies yang pada putaran kedua 'menyerang', pada putaran ketiga tidak melakukan pendekatan itu, tetapi lebih mempertegas program dan perbedaan dengan Ahok baik dari sisi karakter maupun program," sambung Arya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Arya, dalam debat pamungkas ini diharapkan dapat merebut hati pemilih galau (swing voters). Ia mengatakan penting bagi ketiga pasangan calon untuk mempersuasi para pemilih galau tersebut.
"Secara umum memang sasaran utama debat adalah pemilih yang masih galau ya atau yang belum menentukan pilihan karena kalau pemilih loyal sangat sulit berubah. Karena kompetisi ketat, penting ketiganya mempersuasi pemilih ragu, ini kan artinya jarak antara elektabilitas di angka kurang dari 10 persen," tutur Arya.
Arya menambahkan perubahan strategi pada debat pamungkas ini akan mempengaruhi keputusan pemilih untuk mencoblos salah satu pasangan calon. Ia menilai secara umum kualitas debat pamungkas ini cukup baik.
Peneliti CSIS Arya Fernandes Foto: Ari Saputra |
Debat pamungkas Pilgub DKI 2017 mengusung tema 'Kependudukan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Perempuan, Antinarkoba, dan Kebijakan terhadap Penyandang Disabilitas'. Debat yang dipandu oleh Alfito Deannova berjalan seru dengan adu gagasan hingga saling 'serang' kepribadian antarcalon.
Usai debat, tahapan Pilgub DKI akan memasuki masa tenang kampanye pada 12 hingga 14 Februari 2017 mendatang. (dkp/erd)











































Peneliti CSIS Arya Fernandes Foto: Ari Saputra