"Yang harus dipertimbangkan pertama bagaimana persepsi masyarakat kepada MA, kalau kita lihat di kepemimpinan Hatta Ali justru jatuh, bahkan di jaman dia terbongkar mafia peradilan hakim-hakim ditangkap dan Sekretaris MA (Nurhadi diperiksa KPK) artinya jika hakim-hakim ingin mereformasi isi-isinya, mereka harus mencari alternatif pemimpin selain yang ada sekarang," ujar Erwin kepada detikcom Jumat (10/2/2017).
Erwin mengatakan segala persoalan dan masalah yang ada sekarang menjadi sorotan di masyarakat. Sehingga sejatinya para pencari keadilan ini memiliki harapan adanya perbaikan dalam institusi ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erwin mengatakan dalam pemilihan Ketua MA tanggal 14 Februari nanti. Selain itu MA juga harus mengambil terobosan dan inovasi keterbukaan dalam pemilihan.
"Mereka bisa mengundang beberapa masyarakat yang concern di peradilan untuk memantau proses seleksi tersebut, supaya menghindari dugaan yang berkembang di masyarakat adanya politik transaksional di dalam proses seleksi," paparnya.
Erwin mengatakan dengan adanya pihak dari luar yang ikut memantau proses pemilihan Ketua MA nanti. Maka anggapan buruk yang ada di bayang-bayang masyarakat bisa dimentahkan oleh MA.
"Ya ada pihak eksternal untuk memantau proses pemilihan sehingga kepentingan-kepentingan gelap adanya politik transaksional bisa tertampikan," pungkasnya.
Mahkamah Agung (MA) akan menggelar pemilihan ketua yang baru tepat di hari Selasa (14/2). Pemilihan dilakukan dengan cara pemungutan suara terbanyak. Para hakim agung memiliki suara untuk memilih atau dipilih sebagai Ketua MA. (ed/rvk)











































