Survei dilakukan karena Median melihat menguatnya isu dan aktivisme berdasarkan identitas (agama) menjelang digelarnya Pilgub DKI. "Maraknya demonstrasi atas nama pembelaan terhadap ayat suci Alquran, saat pilgub sudah di depan mata tak pelak membuat arus aktivisme Islam akhir-akhir ini menjadi salah satu gelombang utama yang dapat mempengaruhi partisipasi politik 15 Februari nanti," kata Rico mengawali keterangan tertulisnya, Jumat (10/2/2017).
Survei dilakukan dalam kurun waktu 29 Januari sampai 2 Februari 2017. Jumlah sampel 800 responden, dengan margin of error kurang-lebih 3,4% dan tingkat kepercayaan 95%. Sampel dipilih secara random dengan teknik multistage random sampling dan proporsional atas populasi kota madya dan gender. Survei didanai secara mandiri oleh Median.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, kata Rico, ada proporsi yang cukup signifikan dari masyarakat Jakarta yang menjadikan identitas agama sebagai basis penerimaan terhadap pejabat publik. "Ada 35% warga yang tidak nyaman memiliki pemimpin publik yang berasal dari agama lain," kata Rico.
Lebih lanjut, menurut Rico, sebanyak 32,6 persen publik Jakarta tidak setuju dengan pernyataan "agama tak usah dibawa ke ranah politik". Sebanyak 37,6 persen warga DKI tak setuju dengan pernyataan "tokoh agama tidak usah terjun ke dunia politik".
Terkait aksi damai menjelang Pilgub DKI pada 15 Februari 2017 pekan depan, hasil survei Median menunjukkan 53,6 persen warga DKI setuju. "Ada 53,6% warga setuju dengan aksi damai walaupun menjelang pencoblosan," papar Rico. (erd/tor)











































