Kata 3 Cagub DKI soal Reformasi Birokrasi dan Penataan Kota

Kata 3 Cagub DKI soal Reformasi Birokrasi dan Penataan Kota

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 10 Feb 2017 14:34 WIB
Kata 3 Cagub DKI soal Reformasi Birokrasi dan Penataan Kota
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta - Debat kedua calon Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta mengusung tema 'Reformasi Birokrasi dan Penataan Kota'. Sesi pertama debat tersebut adalah pemaparan visi-misi unggulan dari para pasangan calon (paslon) terkait dengan tema yang diperdebatkan.

Paslon nomor urut 1 Agus Harimurti Yuhoyono (AHY)-Sylviana Murni menjadi pihak pertama yang menyampaikan visi dan misinya. Pada penyampaian visi-misi tersebut, Agus memanfaatkan waktu 2 menit yang diberikan moderator.

Agus mengucapkan frasa '5 tahun ke depan' sebanyak tiga kali, sedangkan 'membangun Jakarta' dan 'hakikat dari' diucapkan sebanyak dua kali. Kemudian frasa yang terdiri dari 2 kata terbanyak adalah '5 tahun ke depan'. Agus juga mengucapkan kata 'kita' dan 'membangun' dalam frasa terpisah, masing-masing sebanyak 5 dan 4 kali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agus memanfaatkan waktu 2 menit dengan maksimal sehingga dia bisa menyelesaikan pemaparannya tepat setelah bel tanda berakhirnya waktu yang diberikan berbunyi. Selama 2 menit itu, Agus menyampaikan kurang-lebih 213 kata.

Agus ingin mewujudkan Jakarta sebagai kota yang maju, unggul, dan modern, tapi tetap humanis serta mengakar pada jati diri bangsa. Agus mengatakan, untuk mewujudkan hal itu, perlu membangun kemampuan birokrasi yang transparan, akuntabel, dan responsif.

"Untuk itu, sekali lagi kita harus hadirkan birokrasi yang berintegritas yang andal, sehingga saya akan dapat menjalankan pemerintahan dengan baik, dapat membangun Jakarta dengan efektif, dan tentunya melayani publik jakarta dengan berkualitas. Demikian visi dan misi saya jika saya terpilih menjadi gubernur untuk 5 tahun ke depan," kata Agus menutup paparannya.

Paslon nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mendapat kesempatan berikutnya. Basuki alias Ahok memanfaatkan waktu 2 menit yang diberikan dengan maksimal.

Dalam waktu 2 menit tersebut, Ahok mengucapkan kurang-lebih 246 kata. Selama Ahok memaparkan visi-misinya, cawagub Djarot ikut berdiri dari kursi dan sesekali terlihat mengangguk saat pasangannya itu menjelaskan apa yang telah mereka kerjakan.

Ahok mengucapkan frasa 'tunjangan kinerja daerah' sebanyak 2 kali, 'penataan kota' sebanyak 5 kali, dan 'kita bicara' sebanyak 3 kali. Ahok juga mengucapkan kata 'kita' dan 'warga' secara terpisah dengan masing-masing sebanyak 6 dan 3 kali.

Ahok mengatakan dasar pelayanan publik adalah menempatkan warga sebagai atasan dan memiliki pelayan-pelayan yang memiliki empati untuk melayani. Sedangkan untuk penataan kota, Ahok mengatakan tugasnya mengadministrasi keadilan sosial dengan mengurangi transportasi yang digunakan oleh warga.

"Dengan dasar inilah kami yakin kalau pemimpinnya lurus dengan bersih, transparan, dan profesional, semua penataan kota akan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat," ujar Ahok.

Kesempatan terakhir untuk memaparkan visi dan misi diberikan kepada pasangan calon nomor urut 3 Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno. Waktu yang diberikan juga dua menit.

Saat memaparkan visi-misinya, Anies melewati batas waktu yang diberikan moderator sekitar 4 detik. Selama kurang-lebih 2 menit tersebut, dia mengucapkan 214 kata.

Frasa yang diucapkan berulang oleh Anies adalah 'keadilan dan', 'kota adalah', serta 'menata kota', yang diucapkan masing-masing dua kali. Sedangkan kata 'kita' dan 'warga' diucapkan terpisah sebanyak masing-masing 3 dan 1 kali.

Anies membuka paparannya dengan mengucapkan selamat tahun baru Imlek untuk seluruh warga Tionghoa dan kepada Ahok. Dalam kesempatan itu, Anies juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran gurunya dari Yogyakarta yang bernama Pak Jono.

Anies berpendapat menata kota tak hanya menata gedung semata, melainkan menata bagaimana warga di kota bisa sejahtera, meraih keadilan, dan mendapatkan kebahagiaan. Dia juga menyebut, selama kepemimpinan Ahok, rapor Jakarta merah.

"Kalau kita lihat di sini laporan kinerja CC, kita bicara realisasi program rencana seratus persen, terlaksana 70 persen, bicara hasil audit BPK tidak mencapai wajar tanpa pengecualian, bicara laporan Ombudsman hanya 61, ranking 16 dari 33 provinsi dan skor birokrasi di tahun sebelumnya. Sebelum Pak Basuki menjabat, skornya 100, kemudian menjadi 56. kami akan mengembalikan menjadi Jakarta yang kepemimpinannya efektif," pungkas dia. (ams/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads