Analisis Debat Ahok-Djarot dan Anies-Sandi Soal Transportasi

Ulasan Debat Pilgub DKI

Analisis Debat Ahok-Djarot dan Anies-Sandi Soal Transportasi

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Jumat, 10 Feb 2017 08:59 WIB
Analisis Debat Ahok-Djarot dan Anies-Sandi Soal Transportasi
Debat perdana cagub DKI Jakarta (Foto: Hasan Alhabsy/detikcom)
Jakarta - Pasangan nomor urut 3 Pilgub DKI, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, pernah berniat melakukan moratorium mobil mewah. Wacana itu kemudian dipertanyakan oleh cawagub nomor urut 2 Djarot Saiful Hidayat dalam debat perdana.

"Sekarang bagaimana logikanya, kalau sampai moratorium mobil mewah tidak boleh masuk? Justru kalau seperti ini yang terjadi adalah mobil-mobil murah yang ramah lingkungan yang akan masuk dan Jakarta akan macet," tanya Djarot dalam debat Pilgub DKI perdana di Hotel Menara Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (13/1/2017).

Djarot menyisakan sekitar 8 detik dari waktu yang disediakan. Ada 94 kata yang diucapkan oleh Djarot dalam pertanyaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Frasa yang disebutkan berulang oleh Djarot yakni "transportasi massal", "mobil-mobil", "seperti ini", dan "di Jakarta". Pengucapan Djarot agak lambat saat melontar pertanyaan dan relatif tanpa penekanan tertentu.

"Apakah solusi seperti ini memang bisa memecahkan persoalan kemacetan di Jakarta?" imbuh Djarot.

Sandiaga kemudian menjawab pertanyaan dari Djarot. Sandiaga memang yang pertama mencuatkan wacana moratorium mobil mewah.

"Di sini butuhnya edukasi, dan edukasi. Itu perlu daya picu, daya kejut. Kalau saya mengirim pesan, bahwa orang-orang yang bisa bayar 3 miliar naik kendaraan umum itu efeknya luar biasa. Saya melihat bagaimana kalau seleb-seleb, selebriti-selebriti, bagaimana kalau pengusaha-pengusaha sukses, bagaimana juga kalau pejabat-pejabat seperti Pak Basuki, Pak Djarot, juga naik kendaraan umum?" jawab Sandiaga.

Cukup banyak frasa 2 kata yang diulang oleh Sandiaga dalam jawabannya. Ada pula frasa 4 kata yang disebutkan berulang yakni "yang kami kejar adalah bagaimana" dan frasa 2 kata di antaranya adalah "kendaraan umum", "pola pikir", "memberikan contoh", dan "naik kendaraan".

Sandiaga tampak bermaksud mengklarifikasi wacananya soal moratorium mobil mewah. Sandi sempat menyindir soal kenaikan penumpang TransJakarta yang hanya 6% meski armada terus ditambah.

"Jargon-jargon itu sangat penting, kenapa? Kalau kita mengedepankan to lead by example. Leading adalah memberikan contoh. Memimpin dengan memberikan contoh," kata Sandi.

Djarot lalu menanggapi kembali pernyataan Sandiaga. Kali ini Djarot berpendapat bahwa pajak mobil mewah bermanfaat untuk subsidi silang.

"Pemegang KJP gratis (naik transportasi umum), buruh dengan UMP gratis, lansia gratis, gitu ya, jadi ini adalah hasil dari apa yang kita kumpulkan dari pajak. Pajak yang didapat dari mobil-mobil mewah tadi," tandas Djarot.

Ada 114 kata yang diucapkan Djarot dalam 1 menit. Tak banyak frasa yang diulang oleh Djarot dalam tanggapan ini, hanya ada "tiap hari", yang kita", dan "di Jakarta". Namun Djarot menyebut kata "gratis" sebanyak 4 kali.

"Sekarang 4.500 motor baru tiap hari, 1.600 mobil tiap hari. Setahun jutaan kendaraan ini menambah kemacetan. Begitu, Mas Sandi," kata Djarot.

Tanggapan itu kemudian dibalas oleh cagub Anies Baswedan. Dia mengawali kalimatnya dengan soal restrukturisasi rute.

"Masyarakat Jakarta sudah tumbuh berkembang, rute transportasi kita sudah beberapa dekade ini tak mengalami perubahan," ujar Anies.

Anies menyebutkan 119 kata dalam satu menit untuk menanggapi Djarot. Sejumlah frasa yang dia ucapkan berulang adalah "angkutan massal", "salah satu", "di Jakarta", dan "pembuluh darah".

Frasa "pembuluh darah" tampak keluar dari konteks, tetapi sebetulnya dia menganalogikan sistem transportasi. Menurut dia transportasi massal harus bersambung dan menyebar ke berbagai penjuru.

"Apa yang terjadi? Kita mengintegrasikan sistem transportasi. Lalu, yang tidak kalah penting, ongkos salah satu yang besar untuk pendidikan adalah, transport, siswa di Jakarta nol Rupiah untuk transportasi berangkat dan pulang sekolah," pungkas Anies.

(bpn/erd)


Berita Terkait