Analisis Debat Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot Soal Penggusuran

Dinamika Pilgub DKI

Analisis Debat Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot Soal Penggusuran

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Jumat, 10 Feb 2017 08:17 WIB
Analisis Debat Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot Soal Penggusuran
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta - Para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta akan menghadapi debat ketiga. Sebelumnya di debat pertama, mereka sudah beradu argumen tentang pembangunan sosial dan ekonomi.

Pada segmen keempat di debat perdana, Jumat (13/1/2017) pasangan nomor urut 1 Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni mendapat kesempatan melayangkan pertanyaan ke pasangan nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. Agus kemudian bertanya soal penggusuran kepada Ahok-Djarot.

"Mereka disegel, setelah itu terhempas dari kota Jakarta selama-lamanya, akhirnya nanti pertanyaannya adalah Jakarta ini untuk siapa? Warga yang mana yang kita ingin bahagiakan?" begitu kutipan pertanyaan Agus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Total ada 125 kata yang diucapkan Agus dalam pertanyaan tersebut. Ketika bertanya, Agus pun lebih banyak menatap ke rivalnya tersebut.

Suara Agus cukup keras ketika melontarkan pertanyaan. Intonasinya datar, tanpa ada penekanan pada satu kata tertentu.

Tercatat ada pengulangan pada frasa "warga yang", "yang hidupnya", "semakin sulit", dan "kita ingin". Agus juga sempat menyinggung soal film 'Jakarta Unfair'. Pada akhir pertanyaan, Agus kemudian menyampaikan terima kasih ke Djarot.

"Kita ingin kota kita cantik, tetapi bukan karena kecantikan itu kemudian ada tangis yang berlarut-larut di kota ini. Terima kasih, Pak Djarot," kata Agus.

Namun yang menjawab pertanyaan itu bukanlah Djarot, melainkan Ahok. Pertanyaan Agus dijawab dengan nada yang tidak tinggi.

"Yah, ini memang mungkin pasangan calon 1 lihatnya hanya lokasi tertentu. Kami tuh tidak pernah menggusur daerah yang tidak tinggal di dalam aliran sungai sebetulnya," jawab Ahok.

Ada 211 kata yang diucapkan oleh Ahok saat menjawab dalam 1,5 menit. Ada frasa "kami kerjakan" dan "La Nina" yang diucapkan 2 kali, serta ada kata "rusun" yang diucapkan 5 kali.

Ahok menjawab pertanyaan Agus tentang penggusuran dengan menjelaskan apa yang sebetulnya dia kerjakan. Ahok juga menyebut bahwa La Nina tahun ini tak menyebabkan banjir di Jakarta karena bantaran sungai direlokasi.

"Jadi sekali lagi seolah-olah kami mengusir orang Jakarta. Yang tidak mendapat rusun, itu adalah penyewa yang datang dari luar kota sebetulnya. Tapi kalau dia ber-KTP DKI pasti dapat rusun," kata Ahok.

Setelah dijawab Ahok, giliran cawagub Sylviana Murni yang memberi tanggapan. Nada bicara Sylvi saat menanggapi tak menggebu-gebu, tetapi dibumbui sindiran.

"Saya jadi bingung, bagaimana ya dengan Bukit Duri, kok bisa jadi menang (gugatan) ya? Itu yang saya pikirkan. Apa kemenangan itu semu?" kata Sylvi.

Awalnya, Sylvi tak memandang ke arah Ahok dan Djarot saat memberi tanggapan. Pandangannya ke arah penonton debat.

Tercatat ada frasa "seorang pemimpin" dan "pemimpin yang" diulang oleh Sylvi. Dia juga menganalogikan dirinya jika menduduki posisi pemimpin daerah.

"Akibat menggusur tak pernah memikirkan dampaknya, siapa yang harus bertanggung jawab, nah, di sinilah dibutuhkan komitmen seorang pemimpin. Pemimpin yang punya hati pemimpin, yang memikirkan rakyatnya mesti sejahtera," kata Sylvi.


Ahok kemudian diberi kesempatan lagi untuk memberi tanggapan. Ada 132 kata yang diucapkan Ahok dalam waktu satu menit sebagai tanggapan akhir.

"Kadangkala kalau saya baca berita ya, Ibu Sylvi, saya juga bingung waktu (Anda) datang ke Krukut, Januari. Dia bilang, 'warga harus cerdas, kita gusur--bukan gusur--kita menata," tandas Ahok.

Ada frasa "kami tidak", "jadi gubernur", "30 meter", dan "juga maklum" yang diulang 2 kali oleh Ahok. Dalam tanggapan penutup itu, Ahok balas dengan menyindir. Ahok juga menyebut lebar Sungai Ciliwung dari 30 meter menjadi 5 meter.

"Tapi ya sudahlah namanya juga pengin jadi gubernur kan kita juga maklum. Kami petahana kan? Itu juga maklum tapi saya sangat berharap siapa pun yang jadi gubernur, rakyat itu diedukasi lah. Jangan dibodohi. Kita pengin menang, tapi kita menang dengan elegan rakyatnya jadi cerdas," pungkas Ahok. (bpn/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads