Gambar Palu-Arit di Pemekasan, MUI Jatim: Ada Indikasi Adu Domba

Gambar Palu-Arit di Pemekasan, MUI Jatim: Ada Indikasi Adu Domba

Rois Jajeli - detikNews
Kamis, 09 Feb 2017 21:49 WIB
Gambar Palu-Arit di Pemekasan, MUI Jatim: Ada Indikasi Adu Domba
Foto: dok. Kabid Humas Polda Jatim
Jakarta - Gambar palu-arit tersebar mulai di masjid hingga di tiang penyangga jembatan dan space iklan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Majelis Ulama Indonesia Jatim menilai ada indikasi adu domba dan membenturkan masyarakat.

"Saya khawatir itu membuat pancingan terjadinya crash di tengah masyarakat. Ada indikasi adu domba masyarakat," kata Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori, Kamis (9/2/2017).

Ia menerangkan kejadian yang berhubungan dengan PKI pernah terjadi pada acara karnaval di Pamekasan tahun 2015. Namun penampilan simbol PKI waktu itu diperankan anak-anak untuk menerangkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Karena ketidakpahaman anak-anak, sehingga tidak dipermasalahkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simbol palu-arit kembali muncul di Pamekasan tadi pagi. Temuan gambar palu-arit dari cat semprot warna merah pada dinding toilet Masjid Al-Ikhlas, Desa Bilaan Kecamatan Proppo, pada tiang penyangga jembatan yang menghubungkan Desa Bilaan dengan Desa Lenteng, serta pada space iklan di Jalan Raya Desa Bilaan (sebelah barat Masjid Al-Ikhlas) dinilai sebagai upaya membuat kegaduhan di Pamekasan.

"Saya kira begini, PKI kan sudah dilarang secara resmi melalui Tap MPRS Nomor 25. Juga ada undang-undang yang melarangnya. Jadi secara formal PKI dilarang di Indonesia. Cuma organisasi tanpa bentuk yang berbau komunis ini mulai muncul," tuturnya.

"Saya khawatir (kejadian di Pamekasan) ini pancingan. Ini harus diwaspadai. Jangan sampai pancingan ini dapat menimbulkan crash di tengah masyarakat. Bisa jadi hal itu dapat menimbulkan saling kecurigaan sehingga timbul konflik," terangnya.

KH Abdussomad mengatakan ulama juga ikut berperan aktif mengabarkan kepada masyarakat dan santrinya bahwa PKI dilarang di Indonesia. "Ulama kan juga punya santri. Santrinya bisa dimantapkan, jangan sampai mengikuti paham komunis," ungkapnya.

Ia juga menyoroti banyaknya persoalan yang mulai memasuki Madura, seperti narkoba hingga penyebaran gambar palu-arit.

"Ada apa ya di Madura. Narkoba banyak masuk ke sana. Jadi banyak pancingan di Madura," tuturnya.

"Karena itu, perlu kerja sama antara ulama dan umaro (pemerintahan). Kewaspadaan bukan hanya aparatur keamanan, tapi juga ulama, termasuk masyarakat," jelasnya. (roi/idh)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini