"Saya khawatir itu membuat pancingan terjadinya crash di tengah masyarakat. Ada indikasi adu domba masyarakat," kata Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori, Kamis (9/2/2017).
Ia menerangkan kejadian yang berhubungan dengan PKI pernah terjadi pada acara karnaval di Pamekasan tahun 2015. Namun penampilan simbol PKI waktu itu diperankan anak-anak untuk menerangkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Karena ketidakpahaman anak-anak, sehingga tidak dipermasalahkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira begini, PKI kan sudah dilarang secara resmi melalui Tap MPRS Nomor 25. Juga ada undang-undang yang melarangnya. Jadi secara formal PKI dilarang di Indonesia. Cuma organisasi tanpa bentuk yang berbau komunis ini mulai muncul," tuturnya.
"Saya khawatir (kejadian di Pamekasan) ini pancingan. Ini harus diwaspadai. Jangan sampai pancingan ini dapat menimbulkan crash di tengah masyarakat. Bisa jadi hal itu dapat menimbulkan saling kecurigaan sehingga timbul konflik," terangnya.
KH Abdussomad mengatakan ulama juga ikut berperan aktif mengabarkan kepada masyarakat dan santrinya bahwa PKI dilarang di Indonesia. "Ulama kan juga punya santri. Santrinya bisa dimantapkan, jangan sampai mengikuti paham komunis," ungkapnya.
Ia juga menyoroti banyaknya persoalan yang mulai memasuki Madura, seperti narkoba hingga penyebaran gambar palu-arit.
"Ada apa ya di Madura. Narkoba banyak masuk ke sana. Jadi banyak pancingan di Madura," tuturnya.
"Karena itu, perlu kerja sama antara ulama dan umaro (pemerintahan). Kewaspadaan bukan hanya aparatur keamanan, tapi juga ulama, termasuk masyarakat," jelasnya. (roi/idh)










































