Bicara soal Hoax, Ketua MPR: Fitnah Lebih Sadis dari Pembunuhan

Bicara soal Hoax, Ketua MPR: Fitnah Lebih Sadis dari Pembunuhan

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 07 Feb 2017 14:56 WIB
Bicara soal Hoax, Ketua MPR: Fitnah Lebih Sadis dari Pembunuhan
Ketua MPR Zulkifli Hasan (Muchus/detikcom)
Papua Barat - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengkritik produk pers yang dinilai tak lagi independen. Menurutnya, ketidakpercayaan masyarakat terhadap integritas media membuat masyarakat jadi mencari-cari sumber berita lain. Celakanya, sumber berita lain itu mengandung unsur kebohongan atau hoax.

"Saya, walaupun berat hati, menyampaikan, mengkritik, harusnya media ini kan merah-putih. Tidak mengutamakan kelompok atau golongan. Jadi ketika orang mulai ragu dengan media-media, TV-TV, tentu dia mencari yang lain. Nah itulah bahayanya," ungkap Zulkifli.

Hal itu disampaikan Zulkifli seusai kunjungan kerja Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di STKIP Muhammadiyah Manokwari, Papua Barat, Selasa (7/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Zukifli juga berpendapat mudahnya masyarakat mempercayai berita hoax karena nilai-nilai luhur kebangsaan, seperti Bhinneka Tunggal Ika dan saling menghormati, luntur. Oleh sebab itu ia mengajak seluruh pihak menjunjung esensi dari kebaikan dan kebenaran.

"Kenapa orang mempercayakan (informasi) kepada media sosial? Karena harusnya nilai-nilai luhur yang diajarkan, ini mulai tidak lagi (diajarkan). Makanya saya minta kemarin, kita bersama-sama menghadirkan kebaikan dan kebenaran. Itu tugas kita semua untuk mendidik rakyat dengan baik," tutur dia.

Zulkifli mengingatkan, mempercayai berita bohong, apalagi yang mengandung fitnah, adalah sikap yang keji. Karena itu, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengimbau masyarakat melakukan kroscek terhadap orang yang kredibel jika menerima hoax.

"Fitnah itu lebih sadis dari pembunuhan. Oleh karena itu, saya mengimbau juga kalau ada berita-berita yang terlalu ekstrem, harus direkonfirmasi. Ditanya kepada kenalan, tokoh terdekat, atau bandingkan dengan media mainstream," terang Zulkifli. (nwy/mpr)


Berita Terkait