"Saya lagi tidur dibangunin anak saya, diberi tahu sama anak saya, katanya ada nama palsu Bapak gitu. Saya kaget, kok bisa," ujar Mada kepada detikcom di Mapolres Jakarta Utara, Jl Laksamana Yos Sudarso, Senin (6/2/2017).
Tak lama setelah KTP ganda jadi viral di media sosial, Ketua RT mendatangi rumah Mada di Lodan Raya, Pademangan, Jakut. Ketua RT menunjukkan tiga foto e-KTP yang beredar di medsos yang salah satunya milik Mada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kolom pekerjaan, Mada pada e-KTP palsu ditulis sebagai wiraswasta meski aslinya buruh harian lepas. Begitu pula dengan masa berlaku yang salah.
"Dari situ saya kaget," sebut Mada.
Data di e-KTP palsu juga tidak mencantumkan golongan darah dengan tanda tangan yang berbeda dengan milik Mada. Namun anehnya, e-KTP palsu itu bisa memuat nomor induk kependudukan yang sama dengan KTP yang asli.
"Mungkin ada oknum juga yang mau bikin rusuh kayaknya," ujar Mada.
Polisi tengah menyelidiki kasus penyebaran hoax KTP menjelang pencoblosan pilkada DKI. Penyelidikan dilakukan tim khusus cyber.
Identitas pada foto e-KTP ganda yang beredar di medsos berbeda-beda, yakni Mada, Saidi, dan Sukarno. Alamat pemilik KTP juga berbeda, meski foto pada ketiga e-KTP sama. Mada dan Sukarno merupakan warga Pademangan, Jakut, sementara Saidi merupakan warga Grogol Petamburan, Jakbar.
Penyelidikan dilakukan oleh tim cyber dari Polda Metro Jaya. Polisi menelusuri digunakannya tiga KTP untuk dibuat seolah-olah KTP ganda dengan foto sama. (fdn/rvk)










































