Warga Penjaringan Curhat soal SLB ke Anies Baswedan

Dinamika Pilgub DKI

Warga Penjaringan Curhat soal SLB ke Anies Baswedan

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Senin, 06 Feb 2017 16:50 WIB
Warga Penjaringan Curhat soal SLB ke Anies Baswedan
Anies berkampanye di Penjaringan. (Noval Dhwinuari Antony/detikcom)
Jakarta - Cagub DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan berkampanye menyapa warga di Penjaringan, Jakarta Utara. Seorang ibu kemudian meminta kepadanya mendirikan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus.

Saat itu Anies tengah menyampaikan visi dan misi di Jalan Tanjung Wangi RT 01 RW 12, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (6/2/2017). Seorang ibu kemudian mengeluhkan mahalnya biaya untuk anaknya yang berkebutuhan khusus. Jumlah sekolah anak berkebutuhan khusus di Jakarta, kata dia, juga masih sangat minim.

"Saya sampai tembus ke kelurahan, coba kirimkan gitu loh, Pak, SLB (sekolah luar biasa). Bukan keinginan saya, saya juga tidak ingin punya anak seperti itu, tapi pilihan Tuhan, Pak, saya mohon tolong dipertimbangkan, Pak," ujar ibu itu kepada Anies.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anies menyadari jumlah anak berkebutuhan khusus di Jakarta cukup banyak. Jika terpilih, pihaknya akan memberikan bantuan untuk anak berkebutuhan khusus melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus. Hal ini agar anak-anak mendapatkan sekolah dan guru sesuai dengan kebutuhannya.

"Sekarang ada 2 pendekatan, ada pendekatan yang anaknya dikirim sekolah ke sekolah khusus, ada yang ditempatkan ke sekolah inklusi, yaitu pendekatan mainstreaming namanya," sebutnya.

Pendekatan inklusi, dikatakan Anies, adalah pendekatan di mana anak berkebutuhan khusus bersekolah bersama anak-anak lain di sekolah umum. Namun, di dalam sekolah, anak berkebutuhan khusus tersebut diberi pendampingan dan guru yang khusus.

"Nah kita ingin Jakarta, semua anak-anak berkebutuhan khusus itu terpenuhi pelayanan pendidikannya. Dan yang tadi dikeluhkan oleh beliau (warga), selain soal sekolah, adalah soal biaya menuju sekolahnya. Karena sekolah SLB-nya itu lokasinya jauh, sehingga biayanya mahal, sampai akhirnya anaknya putus sekolah," jelasnya.

"Saya sampaikan bahwa ke depan anak-anak ini bisa menggunakan kendaraan umum untuk berangkat dan pulang sekolah secara gratis. Dengan begitu, beban biaya menuju sekolah bisa teratasi," sambungnya.

Anies juga akan mempertimbangkan dan mengkaji kembali permintaan warga mendirikan sekolah anak berkebutuhan khusus. Pertimbangan tersebut dengan melihat 2 model sekolah untuk anak berkebutuhan khusus tersebut.

"Nanti kita lihat, karena seperti yang saya katakan tadi, ada 2 pendekatan. Satu, yang pendekatan yang memang sekolah khusus; kedua, memang pendekatan dengan sekolah mainstreaming atau sekolah inklusi. Tergantung nanti potret datanya seperti apa," pungkasnya. (nvl/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads