"Ahok memiliki gaya bicara yang bebas lepas penuh spontanitas. Gaya begini sering menimbulkan salah paham. Bukan hanya Pak Jokowi, kami yang di partai pun sering dibuat mangkel dan jengkel," ujar Hendrawan saat berbincang dengan detikcom, Jumat (3/2/2017).
Terkait dengan gaya bicara Ahok tersebut, Hendrawan mengatakan pihak partai sering menyampaikan untuk diperbaiki dengan lebih memerhatikan etika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun atas apa yang telah terjadi, Hendrawan mengatakan hal itu dapat menjadi pelajaran. Bukan hanya untuk Ahok, tapi juga bagi semua politikus.
"Yang sudah terjadi tak perlu ditangisi. Ini menjadi pelajaran agar kesabaran, ketenangan, dan pengendalian diri, tetap harus dipupuk oleh para politisi," kata Hendrawan.
Diberitakan sebelumnya, terkait dengan suara Jokowi yang meninggi saat disinggung soal perkataan Ahok, Luhut tidak merincinya lebih lanjut.
"Beliau netral dalam kasus ini. Malah suara beliau agak tinggi kemarin karena ada anu, apa, Saudara Ahok bicara seperti itu. Dan yang kami mau dan Presiden juga itu arahnya, demokrasi kita ini mesti kita jaga supaya kalian yang lebih muda juga belajar berdemokrasi, bagaimana demokrasi itu berjalan lebih baik," kata Luhut saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (3/2).
Ahok sendiri telah meminta maaf soal ucapannya kepada KH Ma'ruf Amin dalam persidangan. Permintaan maafnya disambut oleh KH Ma'ruf Amin meski keduanya belum bertemu secara langsung. (nkn/brt)











































