Kapolri Ajak Santri di Jateng Teladani Nabi Muhammad soal Toleransi

Kapolri Ajak Santri di Jateng Teladani Nabi Muhammad soal Toleransi

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Sabtu, 04 Feb 2017 01:17 WIB
Kapolri Ajak Santri di Jateng Teladani Nabi Muhammad soal Toleransi
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Kapolri Jenderal Tito Karnavian meneriakkan takbir ketika mengawali sambutannya dalam silaturahmi akbar yang digelar di Mapolda Jawa Tengah. Tito menyebutkan agar masyarakat menjaga kebinekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sambutan Tito diawali soal peran penting umat Islam dalam proses kemerdekaan hingga menjaga kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Hal itu disampaikan ribuan santri dari berbagai wilayah di Jawa Tengah dan perwakilan ulama di halaman Mapolda Jateng.

"Yang pertama bergerak melawan penjajahan Belanda adalah umat Islam, Sarikat Dagang Islam, Sarikat Islam. Mengawali pergerakan kemerdekaan, ketika proklamasi disampaikan 17 Agustus 1945. Yang berperan penting menjaga 'bayi' kemerdekaan Indonesia juga umat Islam. Peristiwa 10 November di Surabaya, jihad yang dideklarasikan ulama mampu membuat Belanda dan sekutu yang akan menjajah kembali harus berhadapan dengan pejuang, ulama, dan santri di Jatim saat itu," kata Kapolri, Jumat (3/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jenderal Tito menjelaskan, di era demokrasi saat ini, diharapkan tidak terjadi perpecahan karena perbedaan pendapat, terutama mendekati Pilkada serentak di Indonesia. Hal-hal provokatif yang merajalela di media sosial juga banyak membuat bingung masyarakat dan mengancam persatuan.

"Kita lihat itu bagaimana di media sosial, kadang kita bingung, masyarakat juga bingung, satu berkata A satu berkata B, yang kirim nggak jelas, akhirnya masyarakat bingung. Apalagi kalau provokatif, provokasi nggak jelas siapa yang kirim, kemudian masyarakat jadi termakan, akibatnya bisa berbenturan satu sama lain," katanya.

Teladan dari Nabi Muhammad SAW dalam menginisiasi piagam Madinah, menurut Tito, sangat patut ditiru agar terhindar dari perpecahan karena perbedaan pendapat ataupun karena terprovokasi. Sebab, dalam piagam tersebut, Rasulullah mempersatukan keberagaman, termasuk warga Madinah yang berbeda keyakinan.

"Kita tentunya meneladani junjungan kita dengan Piagam Madinah-nya yang menghargai toleransi," tegas Tito.

"Kami mohon mari bergandengan tangan Polri, TNI, Pemda, dan elemen pemerintah, segenap ulama dan umat Islam, mari bersatu padu menjaga bangunan NKRI, menjaga toleransi dan kebinekaan sehingga Indonesia menjadi negara Baldatun, Thoyyibatun, Warabbun Ghafur," tutupnya.

Acara bertema "Silaturahmi Ulama, Polri dan TNI untuk Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Dalam Wadah NKRI" ini dihadiri sekitar 7.000 orang. Ulama yang hadir antara lain Kiai Haji Maimun Zubair dan Habib Luthfi bin Yahya.

Selain pengajian dan mendengarkan tausiah dari Habib Luthfi, dilakukan pemberian donasi 6.000 mushaf Alquran dari Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas dalam rangka memenuhi kebutuhan Alquran di Tanah Air. (alg/nkn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads