Warga Eksodus, Penghasilan Warga Padang Menurun

Warga Eksodus, Penghasilan Warga Padang Menurun

- detikNews
Kamis, 14 Apr 2005 15:12 WIB
Padang - Gempa susulan masih saja mengguncang Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Sejumlah warga kota Padang meninggalkan kota. Akibatnya, penghasilan para pedagang yang bertahan di Padang menurun. Warga eksodus karena cemas terhadap kemungkinan terjadinya gempa besar dan gelombang tsunami. Eksodus ini sangat tampak di bandara Padang yang dipenuhi masyarakat. Bahkan tiket pesawat menuju Jakarta juga full booked. Eksodus ini mengakibatkan aktivitas perekonomian di kota ini juga bergerak lamban. Sejumlah pedagang mengaku, omset perhari mereka menurun hingga 70 persen sejak gempa berkekuatan 6,8 SR mengguncang kota Padang pada Minggu (10/4/2005) lalu.Berdasarkan pantauan detikcom, Kamis (14/4/2005), suasana di Pasar Raya Padang tampak relatif sepi, karena masih banyak toko yang tutup. "Rencananya kami akan mulai buka kembali besok. Sampai kondisi betul-betul aman, paling banyak kami hanya akan menstok barang seperempat biasanya dalam toko. Selain sepi pembeli, kami tidak mau ambil risiko bila sewaktu-waktu memang terjadi tsunami," ujar Ujang (48), ketika ditemui detikcom di toko elektroniknya, kawasan Blok A Pasar Raya Padang, Kamis (14/4/2005).Hal serupa diungkapkan para pedagang makanan di Pantai Padang. Ani (28), seorang pedagang jagung bakar mengatakan, sejak gempa, dirinya mengaku tidak berjualan lagi. "Bagaimana mau berjualan, kami takut tsunami. Biasanya, setiap sore sampai malam ratusan orang berdagang di sepanjang pantai ini. Kini nyaris tidak ada yang berani buka," ungkapnya.Dikatakan Ani, kalau pun ada yang berani menggelar dagangannya, nyaris tidak ada yang akan membeli. "Sejak sore hingga jauh malam, pantai ini biasanya selalu ramai dikunjungi. Namun, kini sepi sekali," ujarnya.Hal senada juga diungkapkan Afri Hendra (30). Penyalur komputer di kawasan Andalas Padang itu juga mengeluhkan penurunan omset. "Saya baru berhasil menjual satu unit printer dalam minggu ini. Biasanya, dalam satu minggu ia bisa menjual tiga unit komputer rakitan," kata dia. Sementara itu, Syaf Riyal (31) sopir angkutan kota jurusan Tabing - Pasar Raya Padang, mengaku harus mengencangkan ikat pinggang karena penghasilannya menurun drastis. "Kadang-kadang hasil narik cuma bisa untuk beli minyak dan setoran saja. Lalu anak saya makan apa?" demikian Syaf. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads