Polri: Pancasila Adalah Alat Perekat, Harus Dipertahankan

Polri: Pancasila Adalah Alat Perekat, Harus Dipertahankan

Galang Aji Putro - detikNews
Kamis, 02 Feb 2017 18:24 WIB
Polri: Pancasila Adalah Alat Perekat, Harus Dipertahankan
Boy Rafli Amar (Foto: Bartanius Dony/detikcom)
Jakarta - Perkembangan teknologi yang luar biasa masif juga memiliki dampak buruk. Salah satu dampaknya adalah arus informasi yang mengandung berita bohong atau hoax yang begitu cepat tersebar melalui internet.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, Polri sebagai pengemban amanah konstitusi dan undang-undang memiliki tugas untuk mengayomi dan melindungi masyarakat serta menegakkan hukum. Pada era global ini, Polri juga memiliki fokus pada masalah yang timbul di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

"Kita berupaya melindungi seluruh warga negara untuk terhindar dari marabahaya. Di era global, juga terkait bidang IT dan komunikasi," ujarnya saat memberi pemaparan dalam seminar 'Masa Depan Indonesia di Tangan Generasi Milennial' di Aula Gedung III Kemensetneg, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (2/2/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Naposo Sirait Boru Bere (HNSB) itu, Boy menyatakan bahwa transformasi informasi pada saat ini menjadi ancaman dalam mempertahankan jatidiri bangsa. Menurutnya, mempertahankan nilai-nilai Pancasila merupakan faktor fundamental guna menjaga jatidiri bangsa tetap pada jalurnya.

"Yang paling rentan itu bagaimana jatidiri bangsa itu tetap eksis sepanjang jalan. Negara kita majemuk dan heterogen, Pancasila adalah alat perekat. Itu kekayaan yang harus dipertahankan," ucapnya.

Boy menyebutkan, teknologi informasi dan komunikasi pada era ini tidak memiliki batas. Hal itu kemudian mewarnai dinamika generasi milennial yang memiliki kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi yang tidak terlalu penting.

"Teknologi informasi dan komunikasi itu borderless, tidak mengenal batas. Sekarang, informasi dan budaya bisa mudah mengubah generasi milennial. Yang diterima mereka tidak selalu bersumber dari budaya bangsa," tuturnya. (rvk/fdn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini