Hasil Tani Dimakan Babi, Ribuan Warga Seram Timur Kelaparan
Kamis, 14 Apr 2005 14:03 WIB
Ambon - Malang benar nasib 2.109 ribu warga dusun Wawasa, Desa Amarsekaru, Kepulauan Gorom, Seram Bagian Timur, Maluku. Belum usai melawan serangan malaria, kini mereka terancam kelaparan dan diare karena tidak mampu membeli makanan dan rusaknya hasil tani mereka oleh babi hutan."Warga kini hanya makan ubi mentah yang diremas," kata salah satu Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan Maluku dr Rita Taihuttu di Kantor Gubernur Maluku, Jl. Pattimura, Ambon, Kamis, (14/4/2005).Dijelaskan Rita, saat TGC datang ke lokasi, tidak ditemukan satu pun rumah yang mengepulkan asap. "Itu berarti tidak ada satu pun warga dusun yang memasak," ujarnya.Kondisi warga semakin memprihatinkan karena saat ini mereka juga tidak bisa memanfaatkan hasil tanamnya karena dimakan babi hutan. Ditambah lagi tingkat ekonomi warga yang di bawah rata-rata alias miskin, membuat warga tidak dapat membeli bahan makan dari kecamatan. Buntut musibah ini, Wakil Gubernur Maluku Muhamad Abdullah Latuconsina hari ini mendadak memanggil empat kepala dinas di lingkup Pemda Maluku, yakni Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Perhubungan, Kepada Dinas Perdagangan dan Dinas Kesehatan.Selain itu, Pemda Maluku juga memutuskan menyalurkan bantuan pangan kepada warga dusun Wawasa."Hari ini kami akan kirimkan beras sebanyak 7 ton, gula sebanyak 1 ton, mie instan, susu serta obat-obatan, sekaligus mengantisipasi ancaman diare," kata Latuconsina. Dikatakan Latuconsina, sore ini bersama Muspida Maluku, dia akan mengunjungi warga dusun tersebut dengan kapal cepat Bahari Ekspres. Sementara bantuan makanan akan dikirim dengan kapal perintis Banda Neira.Ditempat yang sama Bupati Seram Bagian Timur (SBT) AG Wokanubun mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan warga setempat, selama ini sebenarnya pihaknya telah menyalurkan beras raskin.Sayangnya, harga beras yang diduga naik tajam dari harga standar Rp 1.000/kg membuat warga dusunWawasa tidak mampu membelinya. "Kami sudah salurkan raskin, hanya saja harga di kecamatan beda dengan harga di desa. Jadi mungkin mereka tidak mampu membelinya," ujar Bupati.Selain itu, kata Wokanubun, masyarakat yang berada di Kabupaten SBT sangat tertinggal baik dari sisi ekonomi, transportasi maupun komunikasi. "Sulit sekali berkomunikasi, satu-satunya transportasi dari dan ke desa maupun antar desa ke kecamatan dan kabupaten hanya bisa menggunakan kapal laut dengan harga yang tebilang tinggi. Sementara tidak ada satu pun alat komunikasi di Kecamatan Gorom," ujarnya.
(umi/)











































