detikNews
Rabu 01 Februari 2017, 14:57 WIB

Polri Kirim 9 Orang ke Sudan Dampingi Pasukan Perdamaian

Audrey Santoso - detikNews
Polri Kirim 9 Orang ke Sudan Dampingi Pasukan Perdamaian Kombes Martinus Sitompul (Bartanius Dony/detikcom)
Jakarta - Polri mengirim 9 anggotanya untuk mendampingi Formed Police Unit (FPU) Indonesia yang belum diperbolehkan kembali ke Tanah Air. Personel yang dikirimkan membantu percepatan pemulangan pasukan.

Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan kesembilan pendamping sudah tiba di Sudan sejak 4 hari lalu.

"Ada sembilan orang yang berangkat ke Sudan dan tiba di sana sekitar empat hari lalu," kata Martinus di gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Rabu (1/2/2017).

Sebelum ke Darfur, kesembilan personel Polri akan terlebih dulu menemui Duta Besar Indonesia untuk Sudan untuk di Ibu Kota Kartum. Mereka meminta dokumen perizinan untuk melanjutkan perjalanan.

Menurut Martinus, dibutuhkan waktu tiga hari untuk mendapatkan izin tersebut. Selain ke kedutaan, kesembilan personel pendamping juga bertemu dengan Gubernur Darfur.

"Nah izin untuk memasuki Sudan itu yang lama ya, ada 3 hari. Baru kemarin masuk dan sudah bertemu dengan gubernur di wilayah Darfur," terangnya.

Dari hasil pertemuan dengan Gubernur Darfur, tim pendamping mendapatkan izin bertemu dengan FPU Indonesia.

"Hasil pertemuan memang masih terus dilakukan pembicaraan, tapi akses tim Indonesia diberikan. Kemudian juga dikomunikasikan informasi-informasi, disampaikan oleh ketua satgas FPU VIII terhadap tim dari Mabes Polri yang ingin mengatakan bahwa barang itu bukan milik FPU VIII," sambung Martinus.

Sebelumnya diberitakan, mengutip sumber pemerintahan di North Darfur, Sudanese Media Centre, penangkapan itu terkait dengan upaya penyelundupan senjata dan amunisi serta sejumlah mineral berharga.

Disebutkan senjata dan amunisi yang diselundupkan termasuk 29 pucuk senapan Kalashnikov, 4 senjata api, 6 senjata tipe GM3, dan 61 pistol berbagai jenis, serta sejumlah besar amunisi. UNAMID dilaporkan masih melakukan penyelidikan mendalam terkait dengan insiden itu.
(aud/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com